Tak Sekadar Silaturahim, YAGHI Siap Perkuat Jaringan LAZISNU Depok

DEPOK — Silaturahim bukan sekadar mempererat hubungan, tetapi juga menjadi bagian dari strategi penguatan jaringan kelembagaan. Hal inilah yang terus dilakukan LAZISNU Kota Depok pada September 2026 dengan menjalin komunikasi dan membangun jejaring bersama yayasan, masjid, serta musala di berbagai wilayah Kota Depok.
Langkah tersebut dilakukan untuk memperluas jaringan pengelolaan dan pelayanan Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS), sekaligus membuka ruang kolaborasi dengan berbagai lembaga yang memiliki kepedulian terhadap pemberdayaan masyarakat.
Pada 9 September 2026, LAZISNU Kota Depok bersilaturahmi dengan Yayasan Global Harmoni Indonesia (YAGHI) di kantornya di Beji, Kota Depok. YAGHI dipimpin oleh Prof. Dr. A.R. Adji Hoesodo, ST., SH., MD(H)., MH., MM., MSc., IEBF, dengan Dwi Aryssandhy Siswanto, S.Kom. sebagai sekretaris.
“Alhamdulillah, kami terus melakukan silaturahmi ke berbagai yayasan, masjid, dan musala. Salah satunya dengan Yayasan Global Harmoni Indonesia. Silaturahmi ini bagian dari upaya memperkuat jaringan LAZISNU Kota Depok,” kata Sodiqul, Sekretaris LAZISNU Kota Depok.
Menurut Sodiqul, secara prinsip, silaturahmi dan penjajakan kerja sama merupakan bagian dari proses pengembangan jaringan LAZISNU. Dalam pertemuan tersebut, YAGHI menyambut baik peluang kolaborasi dan menyatakan kesiapan untuk menjadi bagian dari jaringan LAZISNU Kota Depok. Kesiapan tersebut ditunjukkan dengan keikutsertaan calon pengurus dalam asesmen mandiri mengenai pengelolaan zakat.
Selain itu, calon pengurus juga mengikuti tahapan uji kelayakan dengan pendekatan dan metode Daftar Instruksi Terstruktur (DIT). “Seluruh tahapan wajib dilalui oleh calon pengurus JPZIS. Jadi bukan hanya bergabung secara administratif, tetapi ada proses orientasi, asesmen, dan uji kelayakan yang harus dilalui,” jelas Sodiqul.
Ia menambahkan, sebelum penerbitan SK dan Izin Operasional (IJOP), LAZISNU melakukan orientasi serta pengenalan kelembagaan kepada calon muzaki/munfik. Tahapan tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan calon JPZIS memahami visi, tata kelola, standar pelayanan, serta sistem pengelolaan ZIS yang diterapkan LAZISNU.
“Termasuk dokumen hasil orientasi atau promosi untuk memperkenalkan yayasan yang akan menjadi bagian dari jaringan LAZISNU Kota Depok. Ini penting agar sejak awal terdapat kesamaan pemahaman mengenai tata kelola dan pelayanan ZIS,” ujarnya.
YAGHI: Membangun Masyarakat yang Berdaya
Yayasan Global Harmoni Indonesia (YAGHI) merupakan lembaga nirlaba yang bergerak dalam bidang pemberdayaan masyarakat, pembangunan sosial, dan pengembangan ekonomi kerakyatan. Berlandaskan nilai kolaborasi, keberlanjutan, dan empati sosial, YAGHI mengembangkan berbagai program yang mencakup pendidikan, ekonomi kreatif, lingkungan hidup, kesehatan, sosial-keagamaan, serta pemberdayaan komunitas berbasis gotong royong.
YAGHI meyakini bahwa harmoni bangsa dapat dibangun melalui masyarakat yang berdaya, terdidik, dan mandiri secara ekonomi.
Dengan adanya penjajakan tersebut, LAZISNU Kota Depok dan YAGHI membuka ruang kolaborasi yang diharapkan tidak berhenti pada hubungan kelembagaan, tetapi berkembang menjadi kerja bersama dalam pengelolaan ZIS dan pemberdayaan masyarakat.
Selain mengembangkan program pemberdayaan masyarakat, YAGHI juga telah mengembangkan inovasi berbasis teknologi melalui ACo (Amanah Corporate Official Fund Management), sebuah aplikasi pengelolaan dana sosial berbasis digital dan kecerdasan artifisial (AI).
ACo dirancang untuk memodernisasi sistem pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) agar dapat dilakukan secara lebih transparan, profesional, terstruktur, dan terdokumentasi, dengan tetap memperhatikan ketentuan serta regulasi yang berlaku.
Melalui sistem digital tersebut, pengelolaan dana sosial tidak hanya diarahkan pada aspek penghimpunan dan penyaluran, tetapi juga pada bagaimana dana yang dihimpun dapat memberikan dampak yang lebih terukur bagi penerima manfaat.
Salah satu konsep yang dikembangkan YAGHI adalah zakat dan wakaf produktif, yaitu pendekatan pemberdayaan yang diarahkan untuk membantu penerima manfaat meningkatkan kapasitas dan kemandirian ekonomi. Dengan pendekatan tersebut, penerima manfaat tidak semata-mata ditempatkan sebagai penerima bantuan, tetapi didorong untuk berkembang dan secara bertahap “naik kelas” menjadi lebih mandiri dan berdaya.
Dalam implementasinya, YAGHI juga menyiapkan pendekatan berupa monitoring, pendampingan, dan edukasi yang terukur, sehingga perkembangan program dan penerima manfaat dapat dipantau secara lebih sistematis. Data dan proses tersebut diharapkan dapat menjadi dasar evaluasi sekaligus membantu memastikan program pemberdayaan berjalan secara berkelanjutan.
Menurut YAGHI, ACo tidak dirancang sebagai sistem yang eksklusif untuk satu lembaga. Platform tersebut justru dibuka sebagai ruang kolaborasi bagi berbagai lembaga dan organisasi yang memiliki visi dalam pengelolaan ZISWAF serta pemberdayaan masyarakat.
Dengan demikian, teknologi diharapkan dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat ekosistem filantropi Islam, mempertemukan potensi penghimpunan dana sosial dengan program pemberdayaan yang terukur, sekaligus membangun tata kelola yang lebih transparan dan akuntabel.
Kolaborasi antara LAZISNU Kota Depok dan YAGHI ke depan diharapkan dapat menjadi bagian dari pengembangan ekosistem tersebut, dengan menggabungkan kekuatan jaringan kelembagaan, pengelolaan ZISWAF, teknologi digital, serta program pemberdayaan masyarakat.
Bagi YAGHI, semangatnya bukan sekadar menghimpun dan menyalurkan dana sosial, tetapi bagaimana amanah yang dititipkan masyarakat dapat dikelola secara profesional dan memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat. (Josay YAGHI)
