Peluang dan Tantangan Ekspor UMKM di Tengah Geopolitik Global: Seminar Prof. Dr. Ir. A. R. Adji Hoesodo di Jakarta
Jakarta, 16 Februari 2025 – Forum Bisnis Jawa Tengah menggelar seminar bertajuk “Peluang Ekspor UMKM di Tengah Perubahan Geopolitik Dunia” pada Minggu (16/2) di Jakarta Selatan. Seminar ini menghadirkan pembicara utama Prof. Dr. Ir. A. R. Adji Hoesodo, SH, MH, MBA, seorang akademisi sekaligus pengusaha di sektor Crude Palm Oil (CPO).
Dalam paparannya, Prof. Adji Hoesodo menyoroti dampak perubahan geopolitik terhadap ekspor UMKM Indonesia. Ia menegaskan bahwa kondisi global saat ini, seperti perang dagang, krisis ekonomi, dan regulasi baru di pasar internasional, membawa tantangan sekaligus peluang bagi para pelaku UMKM.
Peluang di Tengah Perubahan
Menurut Prof. Adji, perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok membuka celah bagi UMKM Indonesia untuk masuk ke pasar AS, terutama di sektor furnitur dan kerajinan kayu. Ia mencontohkan kesuksesan pelaku UMKM di Jepara yang berhasil meningkatkan ekspor mebel ke AS hingga 30% akibat pengalihan pesanan dari Tiongkok.
Selain itu, konflik antara negara-negara Barat dan Timur Tengah juga menciptakan peluang bagi produk makanan dan minuman halal Indonesia. Negara-negara seperti Uni Emirat Arab dan Arab Saudi semakin membuka pintu bagi produsen makanan halal dari Indonesia.
“Indonesia punya keunggulan dalam industri halal. Jika dimanfaatkan dengan baik, kita bisa meningkatkan ekspor ke negara-negara Muslim yang kini mencari mitra dagang baru,” ujar Prof. Adji.
Kisah Sukses dan Gagal
Dalam seminar tersebut, Prof. Adji memaparkan contoh sukses lainnya, seperti ekspor tekstil dan fashion ke Eropa yang meningkat setelah adanya boikot terhadap produk fast fashion dari Tiongkok karena isu kerja paksa. Beberapa UMKM di Bandung dan Solo berhasil masuk ke pasar Eropa dengan produk ramah lingkungan.
Namun, di balik cerita sukses, ada pula kegagalan akibat dinamika geopolitik. Salah satunya adalah anjloknya ekspor CPO (minyak sawit mentah) ke Uni Eropa setelah diterapkannya regulasi lingkungan yang ketat. Akibatnya, banyak pelaku usaha sawit di Indonesia kehilangan pasar utama mereka.
“Kita tidak bisa hanya mengandalkan pasar lama. Harus ada diversifikasi ke negara-negara yang masih membuka peluang, seperti Afrika dan Asia Selatan,” tegasnya.
Selain industri sawit, sektor perikanan juga terkena dampak sanksi ekonomi terhadap Rusia. Beberapa eksportir hasil laut dari Indonesia mengalami kesulitan pembayaran dan hambatan logistik akibat sanksi Barat terhadap Rusia.
Solusi bagi UMKM Indonesia
Untuk menghadapi tantangan ini, Prof. Adji memberikan beberapa rekomendasi strategis bagi UMKM Indonesia agar tetap kompetitif di pasar global:
- Diversifikasi Pasar – Tidak bergantung pada satu negara tujuan ekspor.
- Peningkatan Standar dan Kualitas Produk – Memastikan produk memenuhi regulasi internasional.
- Digitalisasi dan E-Commerce – Memanfaatkan platform global untuk pemasaran.
- Kolaborasi dengan Pemerintah dan Asosiasi – Memanfaatkan program fasilitasi ekspor.
- Inovasi Produk Berkelanjutan – Mengembangkan produk yang ramah lingkungan dan sesuai tren global.
Kesimpulan
Dalam penutupannya, Prof. Adji menekankan bahwa UMKM Indonesia harus lebih adaptif terhadap perubahan geopolitik agar tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang.
“Dunia terus berubah, dan kita harus bergerak cepat. UMKM adalah kekuatan ekonomi Indonesia, tapi tanpa strategi yang tepat, kita hanya akan jadi penonton di tengah perubahan global ini,” pungkasnya.
Seminar ini dihadiri oleh ratusan pelaku usaha, akademisi, serta perwakilan dari berbagai sektor industri yang tertarik memperluas jangkauan ekspor mereka di tengah ketidakpastian global.


