E CommerceGeneralNasional

E-COMMERCE DI INDONESIA: BESAR PELUANG BESAR TANTANGAN

Oleh : Ego Soesilo

Dengan kisaran populasi sekitar 265 juta jiwa, Indonesia merupakan salah satu pasar yang menarik bagi industry e-commerce (baca: transaksi, perdagangan melalui jalur elektronik). Populasi yang besar, penetrasi penggunaan perangkat selular (handphone) dan meningkatkatnya penduduk tingkat menengah merupakan target pasar industry e-commerce yang berkembang.

 

Fenomena dapat dilihat dengan bermunculannya bermunculannya pemain local antara lain seperti Tokopedia, Bukalapak, Blibli, Matahari Mall.com yang meramaikan maraknya pasar e-commerce di Indonesian yang tumbuh subur. Merekapun telah memberikan edukasi, pengenalan kepada pasar seperti apa itu e-commerce sehingga perkembangan industry kian diterima khususnya dikalangan pasar strata menengah.

 

Tidak hanya para pemain local namun juga dari luar negri turut masuk di industry e-commerce dalam negri untuk meraih potensi pasar yang cukup besar.  Sebut saja konglomerat e-commerce, retail, internet dan teknologi dari negara tirai bambu China yaitu Alibaba Group, perusahaan e-commerce yang berbasis di Singapura seperti Lazada group, Shopee .

 

Sebagai catatan, salah satunya Shopee, telah menunjukan kinerjanya sebagai aplikasi belanja terpopuler di Indonesia,  yang dapat di unggah ke perangkat sellular (handphone) dengan menggunakan format Android atau IOS.

 

Menurut sumber HSBC, Consumer in 2050: the rise of the EM middle class, October 2012. Indonesia pada tahun 2050 diperkirakan akan menjadi negara ke tiga terbesar setelah India dan China dengan kelas menengahnya di pasar yang sedang berkembang. Dari perkiraan ini bisa dicermati betapa Indonesia akan menjadi hot-target untuk bisnis bertumbuh khususnya e-commerce.

Hal ini harus menjadi signal sangat penting bagi Indonesia khususnya Pemeritah dan masyarakat. Di satu pihak potensi pertumbuhan ekonomi yang sangat besar namun di sisi lain dibutuhkan kesiapan disegala bidang seperti infrastruktur, ketentuan dan aturan terkait, kesiapan SDM agar akselerasi pertumbuhan dapat dicapai dan memperoleh hasil yang optimal.

Namun daya tarik pasar Indonesia yang besar akan menimbulkan tantangan yang besar pula secara spesifik bagi industry e-commerce, seperti:

  • Tantangan logistik yang komplek, sebagai negara kepulauan dengan jumlah 17.000 pulau dan area 1.9 juta km2, pengiriman dari barat ke timur merupakan tantangan yang harus dijawab oleh setiap pelaku e-commerce. Biaya pengiriman (ongkos kiriman) merupakan salah satu factor penting bagi konsumen Indonesia dalam memutuskan pembelian. Di sisi lain, penawaran khusus dalam gratis biaya pengiriman akan menjadi biaya marketing tinggi di mana harus menanggung seluruh transaksi dan akan menjadi berat khususnya bagi pelaku e-commerce skala kecil, menengah (UMKM).

Tantangan logistic lainnya dijumpai pelaku yang mengimport produk dari lura negri, kemacetan di rantai suplai, lamanya waktu tunggu di pelabuhan tujuan dan lamanya waktu ‘trade-clereance’ menjadi masalah klasik yang harus dihadapi.  Menurut Bank Dunia, biaya logistik di Indonesia menelan sekitar 25% terhadap Pendapatan Domestik Kotor (GDP), yang mana merupakan yang tertinggi di bandingkan Vietnam, Malasya, Singapore dengan biaya logistik hanya sampai dengan 20% terhadap GDP. Biaya logistik yang tinggi berdampak besar pada semakin mahalnya harga produk.

  • Lokalisasi sitem pembayaran, transfer bank masih merupakan metode pembayaran yang paling popular di Indonesia. Yang mana metode pembayaran yang sama berangsur ditinggalkan di negara lain, selain itu penetrasi kartu kredit hanya 1.6% merupakan terendah di tingkat ASEAN yang menimbulkan tantangan besar. Rendahnya pemahaman keuangan membuat para pelaku e-commerce perlu menyiapkan strategi guna mengedukasi konsumen untuk melakukan pembayaran online secara praktis dan aman. Kurangnya pemegang rekening di bank juga merupakan tantangan tersendiri bagi pelaku e-commerce menjangkau konsumennya di pedesaan dan daerah-daerah terpencil.

Lainnya, lokalisasi sistem pembayaran tetap memegang peran penting bagi pelaku e-commerce menambah metode pembayarannya, seperti ransfer bank, pembayaran saat pengiriman, pembayaran offline samapi dengan implementasi fintech (finance technology) untuk pihak yang tidak memiliki rekening bank atau kartu kredit.

  • Karakter yang unik, konsumen Indonesia lebih memilih transaksi personal. Ribuan pelaku bisnis online tingkat kecil dan menengah memualia bisnisnya melalui media sosial sebelum akhirnya berkembang menggunakan e-commerce website. Meskipun telah sukses di jalur media social, banyak dari pelaku e-commerce enggan untuk membangun bisnis mereka dengan menggunakan domain sendiri (website) karena khawatir akan kehilangan pelanggan, komunitas online  yang telah dibangun.

Salah satu alasannya karena konsumen Indonesia lebih nyaman berinteraksi dengan penjual melalui media social atau komunikasi melalui aplikasi seperti Whatsapp atau LINE.

Personal transaksi seperti ini bagi penyedia platform e-commerce perlu menyiapkan sistem berbasis web-based market-place. Namun demikian menjadi kemungkinan untuk mengantisipasi keinginan pelaku e-commerce tingkat kecil dan menengah yang ingin berkembang menuju web-based market-place.

Konsumen Indonesia lebih memilih penjual yang memberikan penawaran khusus atau harga lebih rendah. Saat penawaran sudah berakhir, maka konsumen akan beralih ke penjual online lainnya untuk mendapatkan penawaran yang lebih baik.

Sementara di Indonesia memberikan kesempatan berkembang bagi banyak pelaku baru e-commerce, namun tidak semua berhasi. Meskipun pasar menjanjikan, hanya pelaku dengan strategi yang tepat dapat unggul dalam kompleksitas.

 

Sumber: berbagai sumber