Bisnis EkonomiGeneralNasional

Tahun 2019 : Pertumbuhan Logistik 10 Persen

Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) memperkirakan pertumbuhan pasar logistik di Indonesia bisa mencapai 10 persen di tahun ini. Sedangkan pada 2019 berada di kisaran 10-12 persen. Sedangkan lima tahun ke depan, pertumbuhannya tidak jauh berbeda masih sekitar 12 persen.

Hal senada pun diakui Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI), Zaldy Ilham Masita. Ia memperkirakan tahun ini bisnis logistik di dalam negeri bakal menyentuh 10 persen. Pertumbuhan yang moderat itu bakal ditopang oleh perkembangan e-commerce dan pembangunan infrastruktur. “Kami yakin pertumbuhan masih bisa di atas 10 persen,” ujar dia di Jakarta.

Secara umum, kata Zaldy, jika dibandingkan dengan tahun lalu, bisnis logistik tumbuh sekitar 10 persen-12 persen pada semester I-2018. “Semester I ini cukup baik, pertumbuhan kurang lebih 10 persen-12 persen dari tahun lalu. Ya, Lebaran sebagai faktor utama,” kata Zaldy, sebagaimana dikutip dari dari kontan.co.id.

Ia menjelaskan, ada kenaikan sekitar 30 persen saat momen Lebaran dibandingkan hari normal. Sedangkan untuk target pertumbuhan pada tahun 2018, ia memprediksi logistik bisa tumbuh 12 persen dibandingkan dengan tahun 2017.

Sementara konsumsi kelas menengah yang terus meningkat, menjadi kontribusi yang turun membengkaknya pasar logistik di sini. Bahkan boleh jadi kini pasar industri logistik nasional sangat besar. Indonesia memiliki 17.500 pulau
yang tersebar, penduduk sebesar 262 juta jiwa dengan pengguna aktif internet 143 juta jiwa. Fenomena ini mendorong maju pesat di Indonesia.

Menurut Dirjen Penyelenggaraan Pos dan Informatika Kemenkominfo, Ahmad Ramli industri logistik kini mengalami perubahan. Dulu industri logistik dikuasai oleh pengiriman besar yang dilakukan perusahaan. Namun sekarang pengiriman secara individu melonjak sejalan dengan pesatnya perkembangan toko daring, sebagaimana
dikutip dari republika.co.id.

Berdasarkan data, jumlah kelas menengah di Indonesia kini mencapai 40 juta jiwa. Angka itu terus meningkat, diprediksi bisa menembus angka 200 juta jiwa pada tahun 2045. Kelas menengah ini yang menjadi pendorong tumbuhnya bisnis e-commerce di Indonesia.

Kini tak heran bila pengguna smartphone di Indonesia mencapai 100 juta jiwa. Suatu angkah yang sangat besar! Instrumen itu merupakan salah satu piranti belanja e-commerce. Menurut prediksi Institute for Development of Economics and Finance (Indef), nilai transaksi ecommerce tahun 2018 ini mencapai Rp. 100 trilun. “Nilai transaksi e-commerce itu diperkirakan tahun depan akan menembus Rp100 triliun. Ini berkaca dari 2016, yaitu Rp75 triliun
dari data Bank Indonesia, kita memprediksikan akan dapat tumbuh sampai Rp100 triliun. Kalau 2017 sekitar Rp85 triliun,” jelas ekonom Indef, Bhima Yudistira, sebagaimana yang dikutif dari website Media Indonesia.

Beberapa waktu lalu, Kemenko Perekonomian dan Ernst & Young pernah bekerjasama membuat kajian mengenai bisnis e-commerce di Indonesia. Bisnis e-commerce diperkirakan akan meningkat 10 kali lipat pada 2020. Tidak
main-main, nilainya diperkirakan bisa mencapai 130 miliar dolar AS atau setara Rp 1.800 triliun.

Angka yang sangat besar untuk menjadi potensi pertumbuhan industri logistik nasional. “Ini potensi besar bagi usaha logistik nasional, karena e-commerce berhasil jika didukung logistik yang kuat,” ujar Ahmad Ramli di Jakarta.

Lebih lanjut ditambahkan, pembangunan nasional saat ini juga mendukung potensi bisnis e-commerce. Pemerintah bekerja keras membangun berbagai infrastuktur seperti jalan, bandara, dan pelabuhan yang akan memperlancar
arus transportasi serta logistik.

Menurut Chief Executive KIBAR Yansen Kamto yang dikutip dari detik.com, setelah ecommerce dan fintech berkembang, selanjutnya logistik. Tahun lalu, sektor ini belum tergarap sepenuhnya, tapi diprediksi 2018 akan melaju kencang. “Orang-orang sudah menyadari, mau e-Commerce atau e-Payment sebaik apapun, kalau kirim barang di Jawa saja ribet, apa lagi kirim ke Kalimantan atau Papua. Itu yang harus diberesin,” katanya.

Lebih lanjut ditambahkan, akan terbuka peluang bagi perusahan ekspedisi lokal yang ada di daerah. Karena muncul startup yang akan meng-agregat mereka. “Di daerah itu banyak lho ekspedisi lokal yang kecil-kecil, mereka bisa
bergerak lebih cepat. Harga jauh lebih murah dan jangkauan lebih luas,” ungkap Yansen.

Nofrisel, mewakili Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) dalam diskusi Power Lunch milik TruckMagz bertajuk Indonesia Transportation and Logistics Outlook 2018, Klub Kelapa Gading, Jakarta Utara,akhir November
tahun lalu mentakan, beragam hasil riset menunjukan proyeksi bisnis logistik tahun 2018 masih menjanjikan dengan nilai pertumbuhan mencapai 14,5%. Indikator lain terlihat dari produsen truk yang sekarang perlahan mengalihkan penjualannya ke sektor logistik, sebagaimana dikutip dari truckmagz.com.

“Kadin memberi apresiasi pemerintah terhadap paket lima kebijakan ekonomi terkait logistik yang sudah terbit . Hanya saja dari sisi eksekusi masih lemah. Kita melihat pendekatan parsial oleh pemerintah menjadi pangkal masalahnya,” tutur Nofrisel. Ia pun menyayangkan isu logistik nasional sudah dibahas 10 tahun terakhir namun
belum juga ada kemajuan.

Sementara itu, di bisnis kurir diprediksi akan terus bertumbuh seiring pertumbuhan e-commerce yang naik rata-rata 30% per tahunnya. “Ini tak lain karena perilaku berbelanja masyarakat sudah banyak beralih ke online. Apalagi
masalah kemacetan di kota-kota besar membuat masyarakat malas keluar rumah, akhir lebih memilih menggunakan
kurir,” kata Muhammad Feriadi, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres Indonesia (Asperindo).

Perkiraan serupa disampaikan Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Yuki Nugrahawan Hanafi. Ia memprediksi bisnis logistik bisa tumbuh hingga 10,4 persen. Pertumbuhan yang diperkirakannya itu bahkan lebih tinggi daripada tahun lalu yang hanya 7 hingga 8 persen.

Namun, Yuki menambahkan, untuk mewujudkan pertumbuhan itu banyak hal yang perlu dibenahi. Ia menyebutkan Indonesia masih mempunyai pekerjaan rumah untuk menurunkan biaya logistik. Biaya logistik di dalam negeri
masih terbilang tinggi, yakni 23,7 persen terhadap GDP. Bahkan porsi biaya logistik menyumbang sekitar 40 persen dari harga ritel barang.

Tingginya biaya logistik akan mempengaruhi daya saing pelaku usaha. Dan bukan tidak mungkin menjadi salah satu penghambat investor asing masuk ke Indonesia. (*/gus)n