Uncategorized

Rekonstruksi Konsep Manusia Ekonomi dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadis: Kritik terhadap Homo Economicus

Latar Belakang Masalah

Manusia merupakan aktor utama dalam setiap aktivitas ekonomi. Cara suatu sistem ekonomi memandang manusia akan sangat menentukan arah kebijakan, tujuan pembangunan, serta dampak sosial yang dihasilkan. Dalam ekonomi arus utama, khususnya ekonomi neoklasik, manusia dipahami melalui konsep Homo Economicus, yaitu individu rasional yang bertindak untuk memaksimalkan kepentingan diri dan keuntungan material.

Konsep ini telah menjadi dasar bagi teori mikroekonomi dan praktik pasar bebas modern. Namun, dalam realitasnya, berbagai persoalan seperti krisis ekonomi global, ketimpangan sosial, kemiskinan struktural, serta kerusakan lingkungan menunjukkan bahwa paradigma tersebut memiliki keterbatasan serius. Orientasi ekonomi yang terlalu menekankan pada kepentingan individu dan efisiensi material sering kali mengabaikan dimensi moral, sosial, dan spiritual manusia.

Dalam konteks ini, muncul kebutuhan akan pendekatan alternatif yang mampu memandang manusia secara lebih utuh. Ekonomi Islam, yang berlandaskan Al-Qur’an dan Hadis, menawarkan pandangan berbeda dengan menempatkan nilai moral dan tanggung jawab spiritual sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas ekonomi. Oleh karena itu, rekonstruksi konsep manusia ekonomi dalam perspektif Islam menjadi penting sebagai kritik dan alternatif terhadap konsep Homo Economicus.

Kajian dan Diskusi

Keterbatasan Konsep Homo Economicus

Homo Economicus dipahami sebagai individu yang selalu bertindak rasional demi memaksimalkan utilitas pribadinya. Rasionalitas dalam konsep ini bersifat instrumental, yaitu memilih tindakan yang paling efisien untuk mencapai tujuan material. Asumsi tersebut memang memudahkan analisis ekonomi, tetapi sekaligus menyederhanakan kompleksitas perilaku manusia.

Dalam praktiknya, konsep ini cenderung memisahkan perilaku ekonomi dari nilai moral. Kejujuran, empati, kepedulian sosial, dan tanggung jawab etis sering kali dianggap sebagai faktor eksternal yang tidak esensial dalam pengambilan keputusan ekonomi. Akibatnya, perilaku ekonomi yang eksploitatif dan tidak berkeadilan dapat dianggap rasional selama menguntungkan secara material.

Kondisi ini menunjukkan bahwa Homo Economicus gagal merepresentasikan manusia secara menyeluruh. Oleh karena itu, diperlukan paradigma yang mampu mengintegrasikan dimensi moral dan spiritual ke dalam rasionalitas ekonomi.

Konsep Manusia dalam Perspektif Al-Qur’an

Al-Qur’an memandang manusia bukan hanya sebagai makhluk ekonomi, tetapi sebagai insān yang memiliki akal, nurani, dan tanggung jawab moral. Allah SWT menegaskan kemuliaan manusia dalam firman-Nya:

“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam…” (QS. Al-Isrā’: 70)

Ayat ini menunjukkan bahwa setiap aktivitas manusia, termasuk ekonomi, harus mencerminkan nilai kemuliaan dan tanggung jawab moral. Rasionalitas dalam Islam tidak bersifat netral nilai, melainkan selalu terikat pada prinsip etika dan keadilan.

Selain itu, Al-Qur’an menempatkan manusia sebagai khalifah di bumi:

“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.” (QS. Al-Baqarah: 30)

Sebagai khalifah, manusia diberi amanah untuk mengelola sumber daya secara bertanggung jawab. Kepemilikan harta tidak bersifat absolut, melainkan titipan yang harus digunakan untuk kemaslahatan bersama.

Manusia juga diposisikan sebagai ‘abd (hamba Allah), yang seluruh aktivitas hidupnya—termasuk aktivitas ekonomi—bernilai ibadah jika dilakukan sesuai dengan ketentuan syariah:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzāriyāt: 56)

Dengan demikian, aktivitas ekonomi dalam Islam tidak hanya berorientasi pada keuntungan duniawi, tetapi juga pada pertanggungjawaban akhirat.

Landasan Hadis dalam Etika Ekonomi

Hadis Nabi Muhammad ﷺ memperkuat dimensi moral dalam aktivitas ekonomi. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi, orang-orang shiddiq, dan para syuhada.” (HR. Tirmidzi)

Hadis ini menegaskan bahwa keberhasilan ekonomi tidak hanya diukur dari keuntungan, tetapi juga dari integritas dan kejujuran. Islam menolak praktik ekonomi yang mengandung unsur penipuan, eksploitasi, dan ketidakadilan, meskipun secara material dapat memberikan keuntungan.

Nilai amanah, kejujuran, dan keadilan menjadi bagian dari rasionalitas ekonomi Islam, bukan sekadar tambahan moral di luar sistem.

Rekonstruksi Manusia Ekonomi Qur’ani

Berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis, konsep manusia ekonomi dalam Islam dapat direkonstruksi sebagai manusia yang memiliki rasionalitas moral. Keputusan ekonomi tidak hanya mempertimbangkan manfaat material, tetapi juga dampak sosial dan implikasi etis.

Motivasi manusia dalam ekonomi Islam bersifat multidimensi, mencakup kepentingan diri, tanggung jawab sosial, dan orientasi akhirat. Selain itu, perilaku ekonomi dibatasi oleh kesadaran moral internal, bukan hanya oleh mekanisme pasar atau regulasi eksternal.

Prinsip keseimbangan (mīzān) mendorong perilaku ekonomi yang berkelanjutan dan tidak eksploitatif. Dalam kerangka ini, perilaku etis tidak dipandang sebagai penyimpangan dari rasionalitas, melainkan sebagai inti dari rasionalitas Qur’ani itu sendiri.

Kesimpulan

Konsep Homo Economicus memiliki keterbatasan mendasar karena memandang manusia secara reduksionis dan mengabaikan dimensi moral serta spiritual. Al-Qur’an dan Hadis menawarkan paradigma alternatif dengan memandang manusia sebagai agen ekonomi yang bermoral, bertanggung jawab, dan berorientasi pada keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat.

Rekonstruksi konsep manusia ekonomi Qur’ani menegaskan bahwa aktivitas ekonomi tidak dapat dipisahkan dari nilai keadilan, amanah, dan kemaslahatan. Paradigma ini tidak hanya relevan bagi pengembangan ekonomi Islam, tetapi juga dapat memberikan kontribusi penting bagi pembentukan sistem ekonomi global yang lebih etis dan berkelanjutan.

Penulis

Prof.Dr.A.R.Adji Hoesodo, ST.,SH.,MD(H).,MH.,MM.,Msc,IEBF

Alumni Lemhannas PPSA XXI RI

Akademisi, Dokter, Pengacara & Enterpreneur