PENGADAAN SUMBER DAYA PANGAN YANG BERDAULAT DAN BERKELANJUTAN GUNA PEMBANGUNAN KEUNGGULAN KOMPETITIF PEREKONOMIAN YANG BERKEADILAN DALAM RANGKA KETAHANAN NASIONAL
Oleh:
Dr. Ir. A.R. ADJI HOESODO, SH, MH, MBA
Ketum Josay, Akademisi, Pengusaha, & Alumni PPSA XXI Lemhannas RI
Konsep pengembangan sistem pertanian yang berkelanjutan menjadi isu global muncul sejak tahun delapan puluhan, setelah terbukti pertanian sebagai suatu sistem produksi ternyata juga sebagai sumber pencemaran bagi sumberdaya lahan dan air. Meluasnya lahan-lahan marjinal dan pendangkalan perairan dihilir merupakan bukti bahwa pertanian yang tidak dikelola secara berkelanjutan telah menurunkan mutu sumberdaya pembangunan. Pertarungan Teknologi Pertanian Dunia (Kimia VS Alami), secara langsung berdampak pada bumi, air, sumber daya hayati dan tanah yang semakin memburuk dan rusak karena eksploitasi untuk mengambil energi fosil dan mineral logam pendukung teknologi fisika mempersulit produksi pangan yang biasa dilakukan secara konvensional yang semakin mahal.
Untuk itu, mengembangkan sistem pertanian yang berkelanjutan adalah suatu keharusan yang perlu dilakukan jika kita ingin terus dapat melakukan pembangunan di berbagai bidang,
Hingga saat ini, pola konsumsi masyarakat Indonesia terhadap sumber pangan hewani secara umum masih rendah jika dibandingkan dengan pangan nabati. Pada tahun 2014, konsumsi protein hewani sebesar 32,1% dari total protein. Konsumsi protein hewani nasional masih sangat rendah dan perlu terus ditingkatkan. Rendahnya konsumsi protein tersebut berpotensi menghambat upaya peningkatan kualitas sumberdaya manusia Indonesia. Ikan merupakan salah satu bahan makanan yang absorbsi proteinnya lebih tinggi dibandingkan dengan produk hewani lain seperti daging sapi dan ayam, sumbangan protein ikan terhadap total protein hewani mencapai 57.1%. (Sumber Data BPS, 2014)
POTRET/ FAKTA-FAKTA
Sumber Daya Genetik (SDG) tanaman memiliki arti yang sangat penting dalam mendukung pemenuhan kebutuhan pangan baik secara langsung maupun tidak langsung. Sejumlah varietas komoditas tanaman telah dimanfaatkan secara intensif sebagai pangan, sejumlah species tanaman lainnya yang belum dimanfaatkan diketahui memiliki potensi dalam mendukung program pemuliaan tanaman. Perubahan iklim merupakan isu penting yang memiliki potensi dapat mengancam ketersediaan SDG tanaman. Pemanasan global dan bencana alam dapat memacu terjadnya erosi genetik terhadap SDG tanaman yang ada. Oleh karena itu, SDG tanaman perlu untuk dilestarikan agar dapat tersedia secara berkelanjutan dalam mendukung ketersediaan dan ketahanan pangan. Langkah awal upaya pelestarian terhadap SDG tanaman dapat dilakukan melalui serangkaian kegiatan inventarisasi dan dokumentasi data SDG tanaman, untuk selanjutnya dilanjutkan dengan kegiatan koleksi dan konservasi (pemeliharaan) baik secara in situ (lekat lahan) maupun ex situ (koleksi di bank gen). Dalam rangka mengimplementasikan hal tersebut maka BB Biogen telah melakukan kerja sama penelitian dengan FAO dalam program kegiatan yang bertema Pengelolaan, Pengembangan dan Pemanfaatan Sumber Daya Genetik (SDG) Tanaman untuk Mendukung Ketersediaan Pangan yang Berkelanjutan.
Sumber nutrisi hewani banyak yang berbahaya bagi kebutuhan gizi manusia akibat intervensi teknologi penggemukannya seperti pada sapi maupun ayam.
POKOK-POKOK PERSOALAN
Pengelolaan sumber daya alam yang meliputi penanggulangan konflik satwa liar dan penataan ruang, manajemen resiko bencana, kedaulatan dan ketahanan pangan, energi bersih terbarukan dan juga topik yang terkait dengan pengelolaan sumber daya kelautan dan maritim
Strategi ketahanan pangan tentu tidak semata berhenti pada tataran ketersediaan dan akses bahan pangan, akan tetapi ketahanan pangan harus memiliki dimensi waktu, strategi yang baik dan berdampak jangka panjang yang berkelanjutan, visi jangka panjang inilah yang menjiwai kaukus pembangunan berkelanjutan dalam ketahanan dan kedaulatan pangan serta tidak terlepas dari sebuah prinsip utama bahwa pembangunan yang saat ini dilakukan tidak boleh menciderai kemampuan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhannya akan pangan dan iklim yang mendukung, untuk mendapat kepastian dalam memetik panen.
POKOK-POKOK PEMECAHAN PERSOALAN
Sebagai negara maritim, Indonesia yang memiliki luas laut 5,8 juta km2 dengan jumlah pulau ±17.504 dan garis pantai 95.000 km, terpanjang kedua di dunia dianugerahi potensi kekayaan sumber daya ikan yang beraneka ragam dan melimpah. Berdasarkan kajian, potensi sumber daya ikan nasional mencapai 65 juta ton/tahun dengan rincian perikanan tangkap sebesar 7,4 juta ton/tahun dan budidaya sebesar 57,6 juta ton/tahun. Kondisi ini adalah anugerah bagi Bangsa Indonesia yang dapat didayagunakan sebagai penggerak ekonomi nasional, penyedia lapangan kerja, penghasil devisa serta pendukung terwujudnya ketahanan pangan dan gizi nasional.
Mewujudkan ketahanan pangan dan gizi nasional mempunyai arti strategis berkaitan dengan ketahanan sosial, stabilitas ekonomi, stabilitas politik, ketahanan nasional dan kemandirian bangsa. Secara filosofis, pangan menjadi kebutuhan dasar manusia, karena itu pemenuhannya menjadi bagian dari hak asasi setiap individu. Bagi pemeritah pemenuhan kecukupan pangan bagi seluruh rakyat merupakan kewajiban, baik secara moral, sosial, maupun hukum. Selain itu, pemenuhan kecukupan pangan merupakan investasi pembentukan sumberdaya manusia yang lebih baik/ berkualitas yang menjadi kunci keberhasilan pembangunan nasional dalam mewujudkan visi Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur.
Keunggulan komparatif Indonesia seperti land, marine,bidoversities, international sea leanes, unclos implementation, dynamic oceanography & climate change, geotectonic position harus diubah dan di kembangkan kearah keunggulan kompetitif dengan cara meningkatkan kompetensi SDM Nasional kita ( Knowledge, Skill dan Attitute ) untuk meningkatkan Ketahanan Nasional kita dalam menunjang Pembangunan Nasional.


