Peluang dan Tantangan Ditengah Perang Dagang China dan AS 2019
Berita terkait dampak perang dagang Amerika Serikat China serta upaya mengerek inflasi oleh Bank Sentral Jepang
menjadi sorotan media nasional. Tahun ini, dunia memang dihadapkan dengan pecahnya perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Namun, pada tahun depan negaranegara di dunia harus lebih bersiap merasakan dampak nyata dari perang dagang kedua ekonomi terkuat tersebut.
Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) bicara peluang di tengah perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China. Indonesia, kata JK, bisa mengekspor sederet komoditas ke AS.
“Iya itu umumnya barangbarang hasil industri. Karena China kan mengekspor kan industri,” ujar JK.
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping memang bakal bertemu di KTT G20. JK lalu menyebutkan komoditas yang bisa diekspor RI ke AS.
“Seperti garmen, barangbarang elektronik, kemudian yang sekarang jadi masalah baja, seperti itu. Macam-macamlah barang industri ya,” papar JK.
Hal yang perlu digarisbawahi adalah kesiapan Indonesia menyediakan komoditas itu. Maka dari itu kata JK, pemerintah telah menyiapkan Paket Kebijakan Ekonomi nomor 16.
“Kita masih perlu meningkatkan kemampuan kita. Kenapa ada kebijakan ekonomi kemarin itu kan, Nomor 16 agar investasi asing lebih cepat masuk. Itu untuk mengisi ini,” ujar JK.
Namun menurut JK ada komunikasi yang kurang tersampaikan ke masyarakat soal paket kebijakan ini. Sehingga sempat menuai kontroversi.
“Nomor 16 agar investasi asing lebih cepat masuk. Itu untuk mengisi ini produksi komoditas untuk diekspor). Penjelasannya yang mungkin bikin orang komplikasi. Padahal maksudnya tidak ada hal-hal dikeluarkan. Seakan-akan diisi asing, tidak. Keluar memang karena ada undang-undang yang mestinya Rp 10 miliar ke bawah
tak bisa masuk asing,” kata JK.
AS Kunjungi China, Januari
Di informasikan, bahwa delegasi pemerintah Amerika Serikat akan melakukan perjalanan ke Beijing pada Minggu (7/1) untuk mengadakan pembicaraan perdagangan dengan para pejabat China.
Dilansir Bloomberg dari dua orang sumber, Wakil Perwakilan Perdagangan AS Jeffrey Gerrish akan memimpin tim pemerintahan Trump, yang juga termasuk Wakil Menteri Keuangan Urusan Internasional David Malpass.
Baik USTR maupun Departemen Keuangan belum memberikan komentar mengenai rencana ini.
Pertemuan awal tahun tersebut akan menjadi diskusi tatap muka pertama yang telah dilakukan kedua belah pihak sejak Presiden Donald Trump dan Xi Jinping dari China menyepakati gencatan senjata 90 hari di Argentina bulan ini.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Steven Mnuchin mengatakan pekan lalu tim di AS dan Menteri Keuangan China telah mengadakan diskusi melalui telepon.
Pertemuan tersebut menambah tanda-tanda bahwa dua negara dengan ekonomi terbesar dunia itu membuat kemajuan dalam mendinginkan ketegangan perdagangan.
China pekan ini mengumumkan pemotongan tarif putaran ketiga dengan menurunkan pajak impor atas lebih dari 700 barang mulai 1 Januari sebagai bagian dari upayanya untuk membuka ekonomi dan menurunkan biaya bagi
konsumen domestik.
Sebelumnya, Trump telah sepakat untuk menunda kenaikan tarif impor tahunan sekitar 200 miliar dolar AS dari China sementara negosiasi berlangsung. Dia mendorong China untuk mengurangi hambatan perdagangan dan menghentikan dugaan pencurian kekayaan intelektual.
China sejauh ini telah berjanji untuk melanjutkan pembelian kedelai asal AS dan setidaknya menurunkan tarif pada
mobil AS.
Derek Scissors, seorang pakar negara China di American Enterprise Institute mengatakan sementara berita perwakilan perdagangan memimpin delegasi bulan depan disambut positif, kedua belah pihak belum berencana
untuk membuat jenis terobosan skala besar yang diinginkan Trump,
“Kegagalan pejabat tingkat kabinet untuk bertemu pada paruh pertama periode 90 hari membuatnya tidak mungkin
untuk mengantisipasi perubahan mendasar di pihak China,” katanya. (*/gus)n

