Bisnis EkonomiGeneralNasional

Pelaksanaan Tol Laut: Penyandaran Kapal Pelni Di Terminal Baru Pelabuhan Probolinggo

Hasil rapat koordinasi Pelni dan KSOP Probolinggo rencana penyandaran kapal Pelni di Terminal Baru Pelabuhan Probolinggo, Jawa Timur yang dijadikan Pangkalan Tol Laut sudah tahap finalisasi dengan penyandaran KM. Logistic Nusantara 1 Voy 11-2018. Kapal tersebut akan tetap sandar di Dermaga II sisi selatan tengah (KSP Konsesi) Eta 14.00 wib dan tidak ada aktivitas bongkar muat.

Selain itu, dukungan atas rencana tersebut diikuti kemampuan Pelabuhan Probolinggo menyediakan sarana dan prasarana (sarpras), termasuk kesiapan lapangan penumpukan di dermaganya. Kepala Cabang BUP PT DABN Terminal Baru Pelabuhan Probolinggo, Djumadi MM mengatakan, kapal milik Pelni tersebut dari Tanjung Perak, Surabaya menuju TBPP DABN dengan muat 93 Teus full untuk dibawa ke pelabuhan Tahuna. Dikatakan, bahwa Kapal Pelni sandar di TBPP hanya pengenalan saja dan lepas tambat Etd hari Sabtu 10/X-2018 menuju sesuai routenya.

“Yang pasti, dengan kedatangan kapal Pelni sandar perdana untuk melengkapi program pelaksaan tol laut ini, kami akan menyiapkan segala infrastruktur di lapangan dengan berbagai peralatan dan kebutuhan lainnya,” kata Djumadi.

Pada prinsipnya, kata Djumadi, Tol Laut yang dijadikan angkutan massal untuk jalur transportasi laut tersebut terbagi dalam tiga bagian. Masing-masing bagian antara lain, sebagai angkutan penumpang, barang dan pengangkutan hewan. “Ketiganya, mampu ditampung pengangkutannya sesuai dengan kapasitas dan kelayakan yang ada di Pelabuhan Probolinggo,”katanya.

Ia mengatakan, persiapan Pelabuhan Probolinggo sebagai Pangkalan Tol Laut dan Kesiapan Lapangan sudah pada tingkat pembahasan bersama stakeholder di pelabuhan setempat. Dalam pembahasan tersebut diungkapkan, Pelabuhan Probolinggo dinilai mencukupi untuk pemenuhan sarana dan prasarana menampung sandarnya kapal Tol Laut.

“Mulai dari alat pembongkaran, penumpukan sampai dengan dermaga dan sumber daya manusianya (SDM semua ada di Probolinggo,” ujar Djumadi. Di informasikan, bahwa, pada, Sabtu (10/11) lalu, KM. Logistic Nusantara 1, rute (T4) voy ke 11 thn 2018 adalah rute Probolinggo – Makasassar – Bitung – Tahunan (pp) dengan waktu berlayar 14 hari.

“Pelayaran perdanan KM Logistic Nusantara I itu merupakan tahap pengenalan lokasi/lingkungan untuk bongkar 10 box 20” empty yg ditumpuk di lapangan penumpukan (CY) Terminal Baru Pelabuhan Probolinggo PT. DABN, guna memancing kepada para pengguna jasa agar bisa stuffing/di isi dan di muat via kapal Tol Laut,” kata Djumadi.

Disebutkan, KM. Lognus 1 voy ke 11 dari Tanjung perak muat 93 box 20″ full untuk diangkut T4, dan yang 10 box 20″ empty dibongkar di DABN Problggo untuk memancing agar para industri atau pabrikan bisa menggunakan/mengisinya, yang selanjutnya bisa di muat untuk Voy ke 12 estimasi sandar di TBPP PT. DABN Eta 3 Desember 2018.

Isi petikemas mayoritas kebutuhan bahan pokok untuk warga masyarakat indonesia di pulau terpencil dan sekitarnya. Sementara di informasikan sebelumnya, rencana Pelabuhan Probolinggo yang digunakan Pangkalan Tol Laut tetap harus melalui kajian yang terukur dan analisa matang.

Rencananya, kapal tol laut yang akan sandar berukuran 3.000 Gross Tonnage (GT) dengan panjang lebih 70 meter dan dikendalikan PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero)/Pelni. “Kalau ukurannya segitu, sudah pasti harus menggunakan asisten atau kapal tunda untuk menyandarkan kapal didermaga. Mau tidak mau, ini demi keselamatan pelayaran,

” Lebih jauh dijelaskan, secara klasifikasi, Pelabuhan Probolinggo sangat layak dan mumpuni dengan penggunaannya sebagai Pangkalan Tol Laut. Apalagi, Pelabuhan Probolinggo yang juga memiliki rute tetap Probolinggo – Pamekasan ini didukung dermaga sepanjang 150 meter dengan kedalaman minus 9 LWS.

“Saya melihanya, 80 persen layak, dan kapal-kapal milik Tol Laut bisa masuk ke Pelabuhan Probolinggo. Dengan sandarnya Tol Laut selain di Pelabuhan Tanjung Perak, akan menjadikan Pelabuhan Probolinggo sebagai alternatif pengembangan dan pemerataan perekonomian masyarakat di sisi timur Jawa Timur. Sehingga, tidak lagi tertumpu dan tersentralisasi pada keberadaan Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya. “Pada intinya, kalau pemerintah sudah ada pemikiran pengembangan pelabuhan, OP (Otoritas Pelabuhan, red) punya kewajiban pengawasan dan evaluasi dalam penyelenggaraan Tol Laut, sekaligus membantu keberhasilan Tol Laut. Sekali lagi, kami mendukung,” katanya.

 

Trayek Tol Laut

 

Di informasikna, sebanyak 15 trayek tol laut akan beroperasi pada tahun ini. Dari 15 trayek tol laut tersebut, tujuh di antaranya dioperasikan oleh operator swasta melalui proses lelang murni, dan delapan trayek dioperasikan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melalui penugasan.

 

Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, Dwi Budi Sutrisno mengatakan, dari tujuh trayek yang dilaksanakan melalui proses lelang murni, saat ini telah ditetapkan empat perusahaan pemenang lelang dan telah beroperasi.

 

Empat perusahaan tersebut yakni PT Mentari Sejati Perkasa yang melayani Trayek T-7, PT Temas Line yang melayani dua trayek yaitu Trayek T-9 dan Trayek T-11 serta PT Meratus Line yang melayani Taryek T-12.

 

Sedangkan tiga trayek lainnya yang dilelang kepada swasta yaitu trayek T-5, T-8, dan T-10 saat ini masih dalam proses lelang dan ditargetkan akan segera mendapatkan pemenang pada bulan April ini. Dengan demikian 15 trayek kapal tol laut tahun 2018 bisa beroperasi penuh.

 

“Saat ini proses lelang untuk tiga Trayek yaitu Trayek T-5, T-8 dan T-10 sedang berjalan dan harapannya pada bulan April ini akan selesai dan telah ditetapkan pemenangnya sehingga bisa langsung operasi,” ungkap Dwi dalam keterangan belum lama ini.

 

Menurut Dwi, dari 15 trayek kapal tol laut yang dioperasikan tahun ini, enam trayek telah ditugaskan kepada PT Pelni yaitu trayek T-2, T-4, T-6, T-13, T-14, dan T-15 serta dua trayek lainnya ditugaskan kepada PT ASDP Indonesia Ferry yaitu trayek T-1 dan T-3.

 

Dari 15 trayek tol laut yang dioperasikan tahun 2018, sebanyak 13 trayek yang sudah melakukan perjalanan dari pelabuhan pangkal (home base) di Tanjung Perak tujuan kawasan Timur Indonesia. Sedang dua trayek lainnya ditugaskan untuk melayani kawasan Indonesia barat masing masing untuk Trayek T-1 dengan pelabuhan pangkal di Pelabuhan Teluk Bayur dan T-2 dengan pelabuhan pangkal di Pelabuhan Tanjung Priok. (*)