Kerjasama GPU Josay dan HRD Forum: Meningkatkan Kompetensi Human Resources Practitioner Melalui Pendidikan Online
Kerjasama GPU Josay dan HRD Forum: Meningkatkan Kompetensi Human Resources Practitioner Melalui Pendidikan Online
Catatan Acara HRD Brotherhood tanggal 16 sd 17 Maret 2019 di Hotel New Ayuda Puncak menghadirkan pembicara Ketum Josay sekaligus Rektor GPU Singapore JOSAY Prof. Dr. Ir.AR. Adji Hoesodo, SH, MH, MBA yang mengangkat tema Competency Development for Industrial Revolution 4.0- Competency Model Strategies for Higher Business Performance
Dalam acara yang diadakan oleh HRD Forum ini juga diadakan penandatanganan antara HRD Forum dan Global Profeneur University Singapore, dimana pihak HRD Forum diwakili olehCEO HRD Forum Bapak Bahari Antono, ST, MBA sedangkan pihak Global Profeneur University diwakili oleh Prof. Dr. Ir. AR. Adji Hoesodo, SH, MH, MBA yang juga sebagai Ketum Josay .
Dalam Nota Kesepahaman ini dimaksudkan untuk membentuk suatu sistem Pendidikan HRD melalui HRD Forum dan GPU akan meningkatkan kompetensi masyarakat dan praktisi HRD di seluruh Indonesia untuk bisa menikmati Pendidikan online Internasional dan bisa terakses di seluruh pelosok negeri ini.


Mempertimbangkan bahwa saat ini eranya adalah Era Human Capital maka diharapkan dengan nanti akan dilaunching HRD dalam bentuk online dan kita akan mengupgrade bahwa HRD Forum ini akan menjadi HRD Business Academy. Dan kita nanti akan membuat program MBA khusus dalam bidang Human Capital.
Dalam kesempatan yang lain, sebagai pembicara di dalam forum ini, Prof. Dr. Ir. AR. Adji Hoesodo, SH, MH, MBA sebagai Ketum Josay dan Rektor GPU, menyatakan bahwa dalam era ini banyak sekali hal-hal yang perlu dicermati, termasuk mengambangkan suatu model kompetensi bisnis karena Dunia Sudah Berubah. Habis gelap terbitlah terang . Di sini kita lihat dalam Disruptive Digital dalam era ini memang banyak perusahaan yang rontok, banyak bisnis-bisnis yang berjatuhan karena tidak bisa mengikuti perkembangan, tidak bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman di era digital ini.
Di sini suatu kelincahan dalam berfikir baik secara organisasi, maupun pelaku bisnis di sini dalam keputusan yang cepat dan cermat dengan mengikuti alur perubahan ini. Sehingga perlu dibutuhkan suatu teknologi yang humanis, dan juga berpikirnya dibutuhkan suatu pemikiran yang digital mindset dan digital skillset.
Dalam hal ini kita perlu meningkatkan suatu organisasi dalam bentuk perusahaan apapun dalam bentuk organizational learning , di mana kita di isi oleh orang-orang dengan banyak kapabilitas personal mastery di sini, sehingga bisa mengikuti perkembangan zaman ini.
Beberapa hal tentang bagaimana step untuk bagaimana kita menyelenggarakan tata kelola yang baik dimulai dari business reality yang ada sekarang. Juga kalkulasi business scorecard yang matang. Kemudian juga bagaimana kita mengatasi gap yang ada dalam kapabilitas perusahaan tersebut. Sehingga dari 3 item ini kita bagaimana menuju tata kelola yang baik, di mana kita menjadi sangat adaptable terhadap era ini.
Di sisi lain, ditekankan di sini bahwa ada 6 keahlian yangdiperlukan di dalam era ini.
Diawali dengan sikap awareness, sangat penting dalam perubahan ini karena mendasari sikap-sikap yang lain terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat ini.
Di dalam Kondisi Habis Gelap Terbitlah Terang, tadi disebutkan bahwa disrupsi digital ini seolah-olah gelap karena banyak perusahaan yang tumbang dan lain-lain. Tetapi kita setelah ini akan muncul suatu era berkelimpahan, di sebut Habis Gelap Terbitlah Terang. Merupakan era berkelimpahan. Inilah era sharing economy di mana apa-apa menjadi murah, segala sesuatu bisa diakses dengan murah. Sekarang aplikasi-aplikasi yang ada memudahkan manusia di era modern ini. Kita lihat di sini, merembet di bidang yang lain. Seperti kalau kita belanja akan mendapat cashback 20%. Lama-lama cashback bisa 100%. Artinya kita nanti makan bisa murah, nonton bioskop juga murah bahakan tidak membayar. Bahkan nanti kita bisa kuliah nanti tidak bayar. Karena kuliah nanti trennyaakan online, murah, materi tersimpan di cloud. Materi bisa diakses tidak perlu pakai kertas. Semua berbasis cloud. Segala sesuatunya hidup semakin enak sekali. Dalam hal ini juga ditekankan oleh Ketum Josay sekaligus Rektor GPU Singapore, bahwa di sisi lain dari bahwa segala sesuatu akan murah sehingga perlu adanya suatu kepemimpinan teknologi di masa depan dan kita membangun suatu kapasitas dan juga role model dan juga culture yang perlu dipersiapkan di sini.
Kenapa ini perlu diungkapkan karena pada tahun 2020 diperkirakan akan ada suatu gap sekitar 56% bahwa kondisi manager-manager ini akan kosong . Di sini dari generasi sekarang yang dipersiapkan untuk menduduki posisi manager itu akan beralih profesi atau menentukan langkah bisnis tidak mengikuti cara berfikir yang tradisionil. Jadi akan mencari pekerjaan yang lain dengan konsisi sifat-sifat milenial yang melekat pada dirinya.
Dalam kesempatan ini , Ketum Josay juga sudah mempersiapkan aplikasi utuk sharing economy dengan meluncurkan aplikasi Ayares yang sudah siap di gunakan dimasyarakat untuk mengikuti gaya hidup masyarakat di Era Revolusi 4.0 ini demikian disampaikan Ketum Josay yang juga sebagai alumni Fakultas Teknik UI ini di hadapan ratusan Peserta HRD Brotherhood ini yang Tahun ini diadakan di Hotel New Ayuda, Puncak, Kabupaten Bogor ini.

