Bisnis EkonomiDigitalGeneralPendidikan

HUMAN RESOURCE 4.0: Kekuatan Berbagi dan Peluang Murah Hati

Oleh:

Dr Sadana

Dewan Pakar Josay, Dosen Pascasarjana Perbanas, & Alumni UI

 

Tanpa disadari kita memasuki Revolusi Industri 4.0. Konvergensi teknologi adalah kata kunci yang seyogianya dibarengi dengan pemahaman lebih baik aspek bakat (talent) manusia. Barney (1991- sekarang) gigih mengenalkan paradigma resource-based view (RBV). Akronim VRIO: value, rareness, imitability, dan organization adalah buah pikirannya yang makin relevan untuk saat ini. Revolusi Industri 4.0 adalah pemanfaatan internet dengan tingkat kecepatan dan interaksi yang jauh lebih cepat dan dinamis. Lawan-lawan dan kawan-kawan yang tidak kelihatan menjadi peluang dan tantangan transformasi orgnisasi dan global.

Pada World Economic Forum di Davos-Klosters Oktober 2017 menekankan perlunya kesiapan Sumber daya Manusia (SDM-human resource). Transformasi SDM adalah respon tepat dalam era transformasi global saat ini.  Konsep yang diperkenalkan oleh German logistics association “BVL” ini mengakibatkan perubahan dengan ruang lingkup yang begitu luas. Cepat sekali dan membingungkan perubahan pada seluruh sistem produksi, manajemen, maupun tata kelola organisasi.

Dalam rekonstruksi pemikiran para ahli terdahulu diperoleh beberapa pertanyaan: apakah human atau people sudah benar-benar menjadi sumber utama asset organisasi saat ini? People macam apakah yang diperlukan? Bagaimanakah interaksi manusia dengan teknologi organisasi yang responsif? Human Capital Report 2016 World Economi Forum menempatkan Indonesia di nomor 72. Ini jauh di bawah Singapura (13), Malaysia (42), dan Thailand (48) serta Filipina (49). Namun demikian, Indonesia di urutan 6 dalam menghasilkan lulusan sarjana bidang STEM (science, technology, engineering, dan mathematics).

Sayangnya, potensi tersebut tidak dikembangkan dengan optimal. Sekarang data technology: baik big data maupu  small data sudah digunakan secara luas. Sehingga pendekatan serba sistem era disrupsi, yang ditandai internet sebagai leverage, menjadi keniscayaan yang harus kita terima. Semboyan change or die menjadi nyata, bukan teori atau strategi saja, sehngga perlu tindakan nyata juga.

Perubahan, –baik yang kagetan, responsif, terencana, maupun terpaksa–, menjadi agenda semua organisasi. Pemenang perubahan (change champion) menjadi tujuan setiap organisasi. Ada yang berhasil, namun banyak yang gagal! Misalnya, ada 4 startup unicorn (Gojek, Bukalapak, Traveloka, dan Tokopedia) dengan valuasi nilai global di atas 1 M USD.  Namun demikian, banyak startup yang prematur atau tidak tahan hidup. Bahkan, saat ini Gojek sudah merambah ke semua negara ASEAN. Traveloka sudah menjadi pemain utama di Thailand. Ancaman bagi Bukalapak dan Tokopedia di depan mata karena Sophie (dari Singapura) sudah menjadi idola gadis-gadis dan ibu-ibu Indnesia.

Budaya baru berbagi menjadi pekerjaan rumah bagi setiap organisasi agar menghasilkan: kapabilitas dan perubahan yang seiring, serasi, dan sejalan. Iniah kekuatan  yang menjadi bagian dari kinerja jaman now. Tantangan HR 4.0 adalah Budaya Kerja Baru berbasis: value dan teknologi. Manajemen talenta menjadi makin mendesak dan makin perlu direkonstruksi baik oleh otoritas pemerintah maupun pelaku industi. Prinsip thinking ahead, thinking again, dan thinking across (Neo dan Chen, 2007) dapat mengatasi hambatan dan menghasilkan solusi alternatif dan keunikan lokal.

Revolusi Digital ditandai otomatisasi di semua bidang dan konektivitas adalah peluang pengembangan SDM. Banyak kantor sudah mempraktikan flextime dan remote working. Lingkungan dan gaya bekerja work life balance makin dinikmati dan diminati pekerja muda sehingga menjadi work life integration. Inovasi dan pengembangan kapabilitas adalah hasil yang diharapkan.

Tranformasi dan pengembangan diri adalah kuncinya dan serba sistem lunak SDM adalah hasilnya. High performance work systems diperlukan sebagai pemecahan masalah kompleks (makro-mezo-mikro).  Pemecahan masalah kompleks (complex problem solving-CPS) adalah keterampilan baru yang penting dan mendesak. Untuk itu diperlukan dua hal: kerendahan hati pembelajar individu maupun pembelajar organisasi. Sikap inklusif keduanya membawa kita melalui gelap dan dinginnya malam menyongsong Fajar Baru SDM.

Fajar Baru HR 4.0 adalah menempatkan secara strategis  pandangan baru Human Value. Penciptaan nilai strategis manusia di organisasi telap menjadi prioritas pemerintahan saat ini. Era pengembangan infrastruktur jauh lebih berdaya jika SDM menciptakan nilai melalui kreatifitas dan inovasi. Kuncinya bukan sekedar kompetensi, tetapi pengembangan bakat (talent development).

Saya yakin suatu saat “badai” teknologi ini akan reda dan tercipta keseimbangan baru “memanusiakan manusia melalui teknologi”. Tetunya jika kita mau berbagi dengan murah hati. Teruslah BERINOVASI dengan TALENTA SEJATI Anda. BERBAGI dengan MURAH HATI!