Bisnis EkonomiKuliner

Diskusi Panel Program IndoStar: Potensi Skema Pembiayaan Pengembangan Bisnis Kuliner Indonesia

Program IndoStar bertujuan untuk membimbing dan membantu memajukan usaha kuliner diaspora Indonesia di luar negeri. Hal ini dilakukan untuk memperkenalkan cita rasa Nusantara kepada dunia melalui masakannya yang khas.

Permasalahan yang kerap dihadapi peserta adalah harga bahan baku seperti bumbu dan rempah yang tinggi, dan juga memiliki cita rasa yang tidak sesuai dengan rempah Indonesia. Sehingga, hal ini mempengaruhi cita rasa dari masalah yang dihasilkan.

Permasalahan selanjutnya yang juga harus diatasi adalah masalah pembiayaan atau pendanaan bisnis kuliner oleh investor. Peserta diharapkan bisa meyakinkan pihak pemberi bantuan pendanaan bahwa bisnis kuliner peserta memiliki potensi dan prospek yang baik ke depan. Sehingga, program IndoStar ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi peserta untuk mengembangkan restoran mereka.

Pada diskusi panel ini, peserta diharapkan mendapatkan informasi terkait akses pendanaan dan solusi  alternatif  pengembangan  bisnis  restoran Indonesia di luar negeri. Informasi tersebut dihimpun dari para panelis dari berbagai industri, mulai dari industri kuliner, perbankan, hingga industri pendanaan.

Sembilan orang panelis tersebut merupakan sosok penting dari bidang industri bisnis dan kuliner. Mereka adalah Triawan Munaf, selaku Wakil Ketua Umum Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia. Dari pihak Kemenparekraf, turut hadir Anggara Hayun, selaku Direktur Akses Pembiayaan Kemenparekraf RI dan Rizki Handayani, Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenparekraf RI.

Hadir pula sosok pakar kuliner William Wirjaatmadja Wongso dan Widjiono Yono Purnomo yang telah berpengalaman selama puluhan tahun di bidang kuliner. Mereka memberikan wawasan baru kepada peserta terkait perjalanan membangun bisnis kuliner secara menyeluruh.

Pada industri bisnis dan perbankan, hadir Prof. Dr. Ir. A.R. Adji Hoesodo, SH, MH, MBA yang merupakan Presiden Direktur PT. Aji Caraka Optima, Felix Susanto yang merupakan Presiden Nasional Junior Chamber International (JCI) Indonesia, Heinrich Vincent selaku CEO dan Founder dari Bizhare.id, dan juga Martinus Trias Hendarko yang merupakan Vice President International Banking & Financial Institution PT. Bank Negara Indonesia Tbk.

Dengan kehadiran para panelis pada acara ini, peserta akan lebih mudah dalam mempersiapkan prospek bisnis sesuai dengan skema pendanaan dari masing-masing lembaga pembiayaan.

Skema pembiayaan dari Bizhare – Heinrich Vincent

Bizhare merupakan sebuah platform investasi bisnis dengan skema urun dana berbasis teknologi informasi, yang sifatnya disebut sebagai securities crowdfunding berizin dan diawasi oleh OJK. Bizhare memiliki hingga 210 ribu investor di Indonesia dan telah mendistribusikan dana investasi sebesar 200 miliar kepada 135 pelaku UMKM di Indonesia.

Untuk   dapat   mengakses   pendanaan   ini,   peserta   diwajibkan   memenuhi   beberapa persyaratan dokumen; bank statement selama satu tahun, business plan and funding needs, financial statement, company profile, investment amount and valuation, underlying doc untuk pendanaan sukuk mudharabah.

Skema pendanaan yang ditawarkan oleh Bizhare dapat menjadi salah satu solusi bagi peserta yang membutuhkan pendanaan untuk mengembangkan bisnis.

Junior Chamber Indonesia – Felix Soesanto

JCI merupakan organisasi pemuda yang beranggotakan pengusaha di 100 lebih negara di dunia dengan anggota lebih dari 160 ribu orang. JCI dapat membantu peserta sebagai strategic partner dan investor atau rekan kerja yang cocok dengan orang luar negeri. JCI memiliki banyak acara kongres bisnis yang memungkinkan peserta untuk melakukan business match.

PT. Bank Negara Indonesia – Martinus Trias Hendarko

Sebagai perbankan BUMN, BNI memiliki 6 kantor cabang di luar negeri yang tersebar di Singapura,  Jepang  (Osaka),  Korea  Selatan  (Seoul),  Belanda  (Armsterdam),  Inggris (London),  dan  USA  (New  York)  dan  akan  membuka  kantor  cabang  di  area  Sydney, Australia.. Persebaran kantor cabang BNI di luar negeri ini dapat membantu pendanaan para diaspora yang membutuhkan.

Skema pendanaan yang didukung BNI untuk diaspora adalah dalam bentuk investment (alternatif investasi), saving (rekening Taplus), dan loan (fasilitas kredit dalam bentuk KMK dan KI)

PT. Aji Caraka Optima – Prof. Dr. Ir. A.R. Adji Hoesodo, SH, MH, MBA

Prof. Adji memperkenalkan financial structure yang disebut Triangle Project yang terdiri dari project, cash collateral, dan cash fund.

Project: apapun usaha yang dijalankan, terdiri dari owner project dan pelaksana project. Apakah  sifatnya  trading  atau  investasi,  pembangunan,  dan  bidang kuliner. Bagaimana mendirikan perusahaan tanpa jaminan apapun, namun dengan melakukan visibility study dengan pertimbangan hukum, uji materiil dan uji formil.

Cash fund: penyedia uang tunai

Cash collateral: 1) unconditional instrumen, tanpa syarat SBLC, bank garansi, 2) conditional instrumen: letter of credit, SKBDN.

Chef & Culinary Expert – William Wongso

Perhatikan peraturan yang ada di negara masing-masing sebelum membuka restoran di luar negeri. Terutama soal impor bahan baku dan bumbu yang sulit ditemui di luar negeri. Kesulitan mencari SDM (pegawai) yang terpercaya juga menjadi kendala. Hal-hal krusial inilah yang terlebih dahulu diselesaikan sebelum mencari pendanaan di luar negeri karena masalah perizinan dan inquiry yang sedikit berbelit.

Chef & Culinary Expert – Chef Yono Purnomo

Pengalaman mendirikan restoran fine dining di New York.

Sesi Tanya-Jawab

Menentukan harga: menentukan harga harus sesuai dengan lokasi dan target market tertentu agar harga bisa disesuaikan dengan target pasar. Perhatikan pemilihan lokasi, harga bahan baku, dan margin keuntungan yang ingin diperoleh.

Dana untuk buka cabang: ekspansi bisnis dan buka cabang membutuhkan dana yang sangat relatif, sangat tergantung dari lokasi dan skala bisnis, ukuran tempat dan restoran, penyediaan peralatan dapur, dan biaya rental. Variabel yang dihitung banyak, sehingga harus diperhatikan secara detail.

Kendala soal bumbu dasar di Australia: ada yang mengimpor bumbu-bumbu dan rempah dari Indonesia. Di Autralia bumbu tidak susah untuk ditemukan, banyak importir yang bisa mengirimkannya,  terutama  untuk  santan  harus  dari  Indonesia  karena  sangat  berbeda dengan santan di Australia

Proses pertanggungjawaban investment untuk investor: Sebagai pengusaha, kita harus tahu manajemen risiko, baik di bidang operasional, manajemen, atau marketing. Jadi, ketika terjadi krisis dan perusahaan atau bisnis tidak profit, maka bentuk tanggung jawab adalah mengunci risiko bisnis dari hulu ke hilir. Namun, hal ini hanya dapat dilakukan jika project yang dilakukan bernilai besar. Menerapkan Triangle Financial Structure.

Keterbukaan informasi melalui laporan keuangan dan laporan perkembangan bisnis yang menginformasikan kerugian, strategi marketing, dan strategi efisiensi. Bisnis support, yang membantu pengusaha yang sedang terkendala bisnisnya. Investor biasanya mengerti jika ada krisis, terlebih sewaktu pandemi. Maka, yang harus dilakukan pengusaha adalah menjaga transparansi, kemudian bisa dicoba untuk relokasi bisnis, menambah modal, menambah menu baru, mengganti brand, dan lain-lain.

Masalah legalitas: Investor dan lembaga pembiayaan umumnya akan memeriksa prospek dan legalitas bisnis dari bisnis yang dibantu. Untuk memastikan hal tersebut, salah satu hal yang penting adalah track record di laporan keuangan, dan cara terakhir memiliki jaminan untuk  melihat  kemampuan  bayar  dan  prospek  jika belum memiliki record dan laporan keuangan yang baik.

Bagi Prof. Adji, sebagai investor, memiliki skema Tanpa Hutang, Tanpa Modal, dan Tanpa Risiko dengan cara memetakan ekosistem  dan membangun stakeholder dengan  cara membuat proposal dan kajian yang baik mengenai masalah peluang bisnis. Asal memiliki pondasi bisnis yang kuat, bisa dimodali dengan joint venture dan partner bisnis, stakeholder, tanpa perlu modal apapun.