GeneralHomePendidikan

Banyak Peluangnya, Yuks Kita Kuliah !

Oleh
Martin Purnama Chandra
Ketua Deputi Pendidikan dan Pengembangan SDM Josay
Dosen pada Program Studi Hubungan Internasional dan Program Studi Manajemen, Perguruan Tinggi di Bandung

Sesaat lagi kita mulai memasuki tahun ajaran baru, Ya, pastinya setelah selesai rangkaian Ujian Nasional (UN) khususnya, buat para lulusan SMA, SMK dan SMA, mulailah muncul kebimbangan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Pilihan yang selalu muncul yaitu, sebaiknya kuliah atau langsung kerja saja ya setelah masa sekolah ini.

Dulu mungkin pilihan seperti ini masih jadi kebimbangan bagi kebanyakan siswa/siswi setelah mereka lulus, termasuk orangtua mereka pun tidak kalah bimbangnya, dilanda kepusingan atas nasib anak-anak mereka kelak. Namun, di masa sekarang ini sudah tidak ada lagi pilihan semacam itu. Setelah lulus sekolah, semua ya harus KULIAH!

Loh, kok bisa? Kenapa harus gitu? Kalau maunya kerja saja memangnya kenapa?

Penulis sepanjang karir, sering sekali menjumpai curhatan seperti ini dari kerabat, maupun siswa/siswi yang menemui di kantornya, termasuk hanya sekedar bertanya via sosial media. Kebanyakan alasan mereka mengurungkan niat untuk menunda kuliah / bahkan tidak kuliah sangatlah beragam, mulai dari: sekolah lagi sekolah lagi, ribet ahh, malas ahh ; enakan kerja dapat duit, atau tidak punya waktu karena kerja. Alasan lain yang bikin miris yaitu: dilarang orangtua buat kuliah ; suruh bantu kerjaan orangtua. Yang jadi juaranya, alasan mainstream alias terbanyak: kuliah biayanya mahal ; tidak punya uang buat kuliah.

Tahukah?

Semua alasan yang mereka sampaikan hanya karena tidak tahu informasinya. Ya, INFORMASI!

Maka dari itu, kita harus punya kemauan yang kuat, niatkan dengan baik, selanjutnya “Where there is a will, there is a way. Peribahasa tersebut pastinya selalu menjadi motivasi.

Kuliah di era milenial saat ini, sudah menjadi keharusan. Tidak ada alasan bagi mereka yang ingin bekerja atau sudah bekerja untuk meninggalkan kuliah. Kini, hampir di seluruh perguruan tinggi sudah membuka kelas karyawan atau kelas non-reguler khusus bagi mereka yang bekerja. Bagi mereka yang beralasan finansial, sudah banyak beasiswa menanti, sebut saja: Beasiswa Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) di Perguruan Tinggi, Beasiswa dari kementerian seperti Bidikmisi dan LPDP, Beasiswa Lembaga / Yayasan Pendidikan dan Beasiswa dari Pemerintah Provinsi, Kabupaten atau Kota.

Tidak lepas dari peluang diatas, Presiden Joko Widodo bahkan sudah menjanjikan anggaran yang sangat besar untuk Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. KIP Kuliah akan menjadi program perluasan dari KIP SD, SMP, SMA/SMK yang sudah diimplementasikan selama ini. Manuver baru ini sebagai solusi bagi putra putri bangsa Indonesia pada jenjang pendidikan tinggi tanpa harus membayar biaya kuliah. Pastinya kebijakan ini dapat mendorong putra putri bangsa Indonesia supaya unggul dan berdaya saing.

Data tahun 2018 dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) menampilkan angka partisipasi kasar perguruan tinggi di Indonesia hanya sekitar 34 persen. Hal ini menjadi salah satu yang cukup rendah di kawasan Asia Tenggara. Penyebabnya karena sekitar 4.500 perguruan tinggi tersebar di Indonesia, namun hanya sekitar 7,5 juta mahasiswa/i yang terdaftar kuliah. Dengan keadaan seperti itu, animo untuk kuliah wajib kita upayakan lagi.

Salah satu upaya agar kuliah menjadi primadona dan dijadikan impian lagi bagi putra putri kita adalah melalui kenyamanan dan kemudahan dalam belajar. Terlebih belajar di kalangan generasi Z pada era revolusi industri 4.0 cenderung cocok memanfaatkan online learning. Aksesibilitas pendidikan di perguruan tinggi, perlu adanya sistem pendidikan jarak jauh. Jadi, tidak ada lagi kesulitan untuk kuliah karena terhalang jarak atau biaya operasional yang besar. Bahkan penulis sebagai business representative dari Global Profeneur University (GPU) Singapore juga selalu berusaha menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi di Indonesia dalam penyediaan platform berstandar internasional untuk pendidikan jarak jauh tersebut.

Penulis di tiap forum yang diselenggarakan JOSAY Community dan forum akademis lainnya di beberapa perguruan tinggi sering berbicara, bahwa masih adanya ketidakoptimalan kualitas pada pelaksanaan kuliah di Indonesia dan berimbas pada kualitas para lulusannya, terlebih untuk dunia kerja kelak. Pernyataan tersebut merujuk pada World Bank tahun 2011 yang melakukan survey terhadap 473 perusahaan jasa dan manufaktur di Indonesia.

Lantas, siapkah kita menghadapi tantangan era revolusi industri 4.0?

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menilai aspek pendidikan Indonesia perlu merevisi kurikulum dengan menambahkan lima kompetensi. Kelima kompetensi ini sangat dibutuhkan untuk mampu bersaing dalam era revolusi industri 4.0. Lima kompetensi tersebut, yaitu: Kemampuan berpikir kritis ; Memiliki kreativitas dan kemampuan yang inovatif ; Kemampuan dan keterampilan berkomunikasi yang baik ; Kemampuan kerjasama ; Memiliki kepercayaan diri yang tinggi.

Kuliah memang tidak mudah, namun bukan berarti bisa kita tinggalkan. Untuk dapat banyak peluang tersebut, kita wajib kuliah, sudah tidak ada alasan lagi. Kita tetap dapat kuliah melalui berbagai kiat diatas. Capailah semua impian jangan pernah sia-siakan, dan kuliah sangat penting untuk mencapai impian tersebut. Jika semua orang dapat kuliah, maka semua orang menjadi cerdas dan sejahtera. Indonesia akan menjadi lebih berkualitas. For Better Indonesia!