Bisnis EkonomiGeneralNasionalPendidikan

AKTUALISASI BIDANG IPTEK GUNA MENDUKUNG INDUSTRI KELAUTAN DALAM RANGKA KETAHANAN NASIONAL

Oleh:

 Dr. Ir. A.R. ADJI HOESODO,  SH, MH, MBA

Ketum Josay, Akademisi, Pengusaha, & Alumni PPSA XXI Lemhannas RI

 

Seperti yang kita ketahui, teknologi kini telah merembes dalam kehidupan manusia, bahkan dari kalangan atas hingga menengah kebawah sekalipun. Dimana upaya tersebut merupakan cara atau jalan di dalam mewujudkan kesejahteraan dan peningkatan harkat martabat manusia. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ternyata memberi sumbangan besar bagi dunia kelautan di Indonesia. Bagaimana tidak, negara kepulauan dengan potensi sumber daya kelautan beraneka ragam ini telah memanfaatkan kemajuan iptek. Pemanfaatan tersebut sudah barang tentu bertujuan untuk mengoptimalkan penghasilan negara dari sumber daya kelautan dan juga untuk menjaga tiap titik wilayah negara dari bahaya atau pun kejahatan yang kerap terjadi di laut wilayah Indonesia.

Dengan adanya Iptek, semua kebutuhan rohani dan jasmani manusia dapat tercukupi dengan baik. Hal itulah yang mengakibatkan Iptek tidak dapat dilepaskan dari lembaga pendidikan. Seperti pada abad 21, Iptek memiliki peran yang sangat penting bagi instansi pendidikan.Tidak heran jika perkembangan dunia industri, informasi, komunikasi, pertanian dan transportasi pada abad 21 berlangsung lebih cepat.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ternyata memberi sumbangan besar bagi dunia keluatan di Indonesia. Bagaimana tidak, negara kepulauan dengan potensi sumber daya kelautan beraneka ragam ini telah memanfaatkan kemajuan iptek. Pemanfaatan tersebut sudah barang tentu bertujuan untuk mengoptimalkan penghasilan negara dari sumber daya kelautan dan juga untuk menjaga tiap titik wilayah negara dari bahaya atau pun kejahatan yang kerap terjadi di laut wilayah Indonesia.

Pada hakekatnya IPTEK merupakan alat untuk membantu manusia dalam mencapai tujuan secara ilmiah, maka akan semakin besar teknologi yang diciptakan. Dalam bidang komunikasi dan perikanan, IPTEK juga sangat berkembang pesat. Namun selain mempunyai dampak positif, IPTEK juga memiliki dampak negatif.

 

POTRET/ FAKTA-FAKTA

Peran Iptek dalam aktivitas perekonomian yang digambarkan dengan Total Factor Productivity (TFP) di Indonesia adalah yang paling rendah di antara negara-negara ASEAN. Hal ini dipertegas oleh nilai ekspor Indonesia tahun 1996 sampai 2009 yang didominasi oleh produk-produk yang kandungan teknologinya rendah. Sementara impor Indonesia didominasi oleh produk industri, tambang, dan produk industri makanan dengan kandungan teknologi yang tinggi. Hal tersebut menunjukkan bahwa Indonesia belum dapat memperoleh manfaat nilai tambah yang maksimal melalui pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan sumber daya alam. Investasi industri untuk litbang teknologi masih sangat terbatas, sehingga kemampuan industri dalam menghasilkan teknologi masih rendah. Di samping itu, beberapa industri besar dan industri yang merupakan Penanaman Modal Asing (PMA) mempunyai ketergantungan yang besar pada teknologi yang berasal dari industri induknya atau dari negara asing. Akibatnya ketergantungan semakin besar pada negara asing penghasil teknologi dan kurangnya pemanfaatan teknologi hasil litbang dalam negeri. Ketergantungan industri pada teknologi impor antara lain disebabkan oleh kelemahan lembaga litbang nasional dalam menyediakan teknologi yang siap pakai. Hal ini disebabkan oleh rendahnya produktivitas litbang yang disebabkan oleh belum efektifnya kelembagaan, sumber daya, dan jaringan Iptek.

 

POKOK-POKOK PERSOALAN

Peran pembangunan dan pengembangan sains dan teknologi diyakini mutlak penting sebagai salah satu faktor determinan untuk menang dalam era globalisasi ini. Paradigma ini dinyatakan oleh Sachs (1995), Toffler (1990), Reich (1991) dan Quinn (1992). Menurut Lall (1998), ada lima faktor determinan sebagai penyebab rendahnya pembangunan sains dan teknologi nasional, yakni (1) sistem insentif, (2) kualitas SDM, (3) informasi teknologi dan pelayanan pendukung, (4) dana, dan (5) kebijakan sains dan teknologi sendiri.

 

POKOK-POKOK PEMECAHAN MASALAH

Meningkatkan kemampuan dan kemandirian dibidang iptek diperlukan sistem inovasi nasional yang kuat. Abad 21 adalah abad keunggulan dan kunci sukses untuk kata keunggulan dan kemajuan adalah inovasi. Inovasi dibutuhkan untuk memerangi kebodohan, kemiskinan dan memacu pertumbuhan untuk menjadi bangsa yang terhormat, maju dan kompetitif. Dengan kekayaan sumberdaya alam yang begitu melimpah, SDM yang banyak dan berkemampuan, hal ini menjadi salah satu modal yang kuat untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa inovasi. Yang perlu dalam mendorong inovasi adalah menyediakan lingkungan yang kondusif bagi SDM Indonesia agar melakukan inovasi di berbagai bidang

Dalam pengembangan inovasi IPTEK sangat dibutuhkan keterkaitanya (linkage) dengan inovasi di masyarakat. Hal ini terjadi ketika antara pemerintah, dunia bisnis, dan akademisi disatukan. Dengan hal ini, hasil inovasi dapat segera dikomersialisasikan dalam usaha untuk mengatasi permasalahan sosial dan ekonomi. Perbaikan pada daya saing secara langsung akan berpengaruh pada ketahanan nasional .Konsep tentang public-private partnerships merupakan salah satu konsep yang dapat digunakan untuk menawarkan inovasi berbasis pengetahuan, mobilitas penelitian personal, penciptaan lingkungan bisnis yang mantap untuk pemajuan inovasi IPTEK.

Dari landasan teori, evaluasi diri (kondisi saat ini), analisis lingkungan strategis, dan kondisi yang akan dicapai, dapat diketahui bahwa untuk mencapai tujuan mendorong inovasi iptek guna meningkatkan daya saing bangsa dalam rangka ketahanan nasional ada beberapa faktor krisis (critical factors) yang perlu diperhatikan, yaitu:kolaborasi dan partnership, partisipasi, penguatan institusi, dialog dan komunikasi ABG, inisiatif, dan berbagi informasi dan sumber daya. Dengan demikian, upaya yang diturunkan dari kebijakan dan strategi perlu memperhatikan faktor-faktor kritis agar efektif dalam pencapaian tujuan.

Kebijakan

Kebijakan yang dikembangkan di sini tidak dapat lepas dari kebijakan-kebijakan terkait dengan pengembangan, pemanfaatan, dan pemajuan iptek di Indonesia. Berbagai undang-undang, peraturan pemerintah, dan peraturan menteri perlu dirujuk agar menghasilkan suatu kebijakan yang saling mendukung, integratif, dan tidak tumpang tindih. Analisis perubahan lingkungan strategis juga sangat penting dipertimbangkan agar kebijakan yang dihasilkan bersifat dinamis antisipatif.

Dengan memperhatikan gap yang ada antara kondisi saat ini dan kondisi ideal yang diharapkan, dapat dikembangkan kebijakan untuk pencapaiannya. Tentu hal ini dengan memperhatikan lingkungan strategis dan instrumental input. Kebijakan terkait dengan kajian adalah “TERWUJUDNYA DAYA SAING BANGSA DENGAN MENDORONG INOVASI IPTEK DI BIDANG INDUSTRI KELAUTAN “

Strategi

Untuk penerapan kebijakan tersebut perlu dikembangkan strategi. Ada beberapa hal yang dapat digunakan sebagai strategi, yaitu:

  1. Meningkatkan kualitas SDM dalam rangka mendorong inovasi iptek dan rekayasa sosial melalui perbaikan kebijakan bidang pendidikan, industri, dan iptek, pemanfaatan kapasitas yang tidak termanfaatkan pada sisi penyedia, perbaikan sistem transaksi inovasi iptek, peningkatan permintaan dari sisi pengguna, perbaikan kebijakan fiskal bagi pengembangan inovasi iptek.
  2. Mengoptimalkan mekanisme sinergi pelaku inovasi iptek melalui peningkatan efektifitas sistem komunikasi antara lembaga litbang dan pihak industri, penataan infrastruktur iptek, penyediaan sistem komunikasi antara lembaga litbang dan pihak industri.
  3. Meningkatkan ketersediaan infrastruktur inovasi iptek melalui peningkatan anggaran iptek, perbaikan fasilitas riset, biaya operasi dan pemeliharaan, peningkatan insentif peneliti, penyediaan lembaga keuangan modal ventura dan start-up capital
  4. Meningkatkan kesadaran masyarakat dalam penggunaan hasil inovasi iptek nasional yang dilakukan dengan penyediaan berbagai kebijakan antar departemen, pengelolaan media massa, dan sistem pendidikan masyarakat.

Upaya

Strategi yang baik dapat berhasil ketika upaya yang dilakukan untuk mendukung juga sesuai. Upaya yang dilakukan adalah:

  1. Strategi I: Meningkatkan kualitas SDM dalam rangka mendorong inovasi iptek dan rekayasa sosial melalui perbaikan kebijakan bidang pendidikan, industri, dan iptek, pemanfaatan kapasitas yang tidak termanfaatkan pada sisi penyedia, perbaikan sistem transaksi inovasi iptek, peningkatan permintaan dari sisi pengguna, perbaikan kebijakan fiskal bagi pengembangan inovasi iptek.

1) Pemerintah dan DPR mengevaluasi aturan dan kebijakan bidang pendidikan, industri, dan iptek agar lebih sinkron. Dengan upaya ini diharapkan ada kesepahaman yang sama tentang bagaimana SDM bidang IPTEK dapat terpenuhi secara berkelanjutan. Proporsi antara bidang akademik dan vokasi di pendidikan tinggi dan menengah akan mempengaruhi berjalannya inovasi bangsa ini.

2) Pemerintah melalui Kementerian Riset dan Teknologi mengelola resources sharing untuk pemanfaatan kapasitas yang tidak termanfaatkan pada sisi penyedia. Kelebihan kapasitas di lembaga tertentu menjadi lebih mudah diakses oleh inventor dari lembaga lain sehingga utilitas dan peluang berinovasi bertambah.

3) Pemerintah memberikan berbagai insentif industri bagi pengguna teknologi konten dalam negeri. Keseimbangan antara supply dan demand produk inovasi teknologi menjadi lebih baik sehingga budaya inovasi juga berkembang dengan tingkat kemanfaatan masyarakat yang tinggi.

4) Pemerintah memberikan kebijakan fiskal bagi pengembangan inovasi iptek agar terlindungi keberlanjutan inovasi. Perlindungan pada HKI akan mampu mendorong keberlanjutan budaya inovasi karena berbagai peluang insentif dari pemerintah.

  1. Strategi II: Mengoptimalkan mekanisme sinergi pelaku inovasi iptek melalui peningkatan efektifitas sistem komunikasi antara lembaga litbang dan pihak industri, penataan infrastruktur iptek, penyediaan sistem komunikasi antara lembaga litbang dan pihak industri.

1) Pemerintah memfasilitasi forum-forum untuk meningkatan efektifitas sistem komunikasi antara lembaga litbang dan pihak industri. Koneksi antara inovator dan pengguna produk inovasi yang baik akan dapat mempercepat product time to market. Produk inovasi menjadi lebih cepat terserap dengan life cycle yang lebih pendek.

2) Lembaga riset di ABG melakukan penataan infrastruktur iptek untuk terbentuk SIG (special interest group). Fokus pengemangan inovasi dapat dilakukan secara bersama antar para pelaku inovasi agar life cycle produk dapat diperbaiki untuk pemenuhan kebutuhan industri.

3) Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informasi menyediakan sistem komunikasi antara lembaga litbang dan pihak industri. Penguatan jaringan komunikasi dalam sistem database semakin memudahkan para inventor melihat kemajuan inovasi yang ada dan tidak terjadi duplikasi.

4) Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian mengevaluasi sistem transaksi inovasi iptek agar memperpendek product time to market. Industri menjadi lebih terpenuhi kebutuhannya dengan hasil-hasil inovasi yang cepat berubah dan sesuai kebutuhan end user.

  1. Strategi III: Meningkatkan ketersediaan infrastruktur inovasi iptek melalui peningkatan anggaran iptek, perbaikan fasilitas riset, biaya operasi dan pemeliharaan, peningkatan insentif peneliti, penyediaan lembaga keuangan modal ventura dan start-up capital

1) Pemerintah melakukan pemetaan alokasi anggaran iptek di setiap institusi inovasi iptek di ABG. Fokus inovasi antar lembaga menjadi lebih jelas dan didukung anggaran yang sesuai. Distribusi yang baik akan mempercepat pencapaian secara agregat inovasi nasional.

2) Pemerintah dan DPR mengembangkan kebijakan untuk peningkatan anggaran iptek berorientasi daya saing. Kebutuhan anggaran pengembangan iptek nasional menjadi lebih baik, sehingga aktivitas inovasi lebih terbuka lebar. Kebijakan ini perlu ditindaklanjuti dengan pengendalian dan pengukuran ketercapaian.

3) ABG berkoordinasi untuk perbaikan fasilitas riset, biaya operasi dan pemeliharaan agar sesuai prioritas inovasi nasional. Koordinasi ini akan dapat meningkatkan utilitas fasilitas, penurunan biaya operasi dan pemeliharaan agar lebih manfaat bagi penumbuhan budaya inovasi.

4) Pemerintah melalui berbagai lembaga riset dan inovasi meningkatkan insentif peneliti, penyediaan lembaga keuangan modal ventura dan start-up capital untuk keberlanjutan inovasi. Inovasi yang berhasil jika didukung adanya entrepreneurship di masyarakat. Kemudahan dana untuk usaha ini akan mendorong hasil inovasi terus tumbuh.

  1. Strategi IV: Meningkatkan kesadaran masyarakat dalam penggunaan hasil inovasi iptek nasional yang dilakukan dengan penyediaan berbagai kebijakan antar departemen, pengelolaan media massa, dan sistem pendidikan masyarakat.

1) Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional memasukkan konten kesadaran berbangsa dan nasionalisme sebagai nurturing curriculum dalam berbagai mata pelajaran sekolah menengah ke bawah. Dalam jangka panjang akan lahir generasi yang lebih menyadari pentingnya memanfaatkan produk inovasi dalam negeri karena memenuhi kebutuhan masyarakat.

2) Pemerintah melalui Kementerian Kominfo melakukan kerjasama dengan berbagai media massa cetak maupun elektronik untuk sosialisasi cinta produk dalam negeri. Media massa sesungguhnya memiliki peran sangat besar dalam membentuk cara berfikir masyarakat. Pemberdayaannya akan sangat mempengaruhi bentuk masyarakat yang diinginkan termasuk mencintai produk dalam negeri; tentu melalui keteladanan semua unsur bangsa.

3) Pemerintah melalui kebijakan pengadaan barang dan jasa memasukkan persyaratan pemakaian produk dalam negeri dengan persentase tertentu. Pasar yang luas baik di institusi pemerintah, swasta maupun masyarakat menjadi memungkinkan untuk memanfaatkan produk dalam negeri. Komitmen pengguna internal akan meningkatkan intensitas penggunaan produk dalam negeri.