Bisnis EkonomiGeneralNasional

Pertumbuhan Logistik Melesat : Biaya Logistik Perlu Ditekan

Derasnya aliran modal diperkirakan akan mendorong kegiatan manufaktur di Indonesia dan meningkatkan permintaan logistik. Retail atau barang konsumsi harian dan jasa logistik suku cadang akan menjadi area fokus pertumbuhan. Bisnis yang terkait dengan forwarding ekspor/impor, pengiriman dan pengangkutan udara akan tetap
kuat berkat kegiatan perdagangan eksternal yang berkelanjutan.

Sejauh ini bisnis logistik memiliki cakupan yang luas, sehingga peluangnya tetap besar. Pasalnya, production chain
dalam industri ini sangat panjang dan luas. Bisnis logistik ini meliputi raw matterial distribution & collecting, warehousing, transporting to buyer (pedagang), hingga ke customer.

Di samping itu, perusahaan yang dulu melakukan kegiatan logistiknya sendiri, sekarang kegiatan logistiknya di-outcourcing (alihdaya) ke perusahaan logistik. Ini yang turut mendorong pertumbuhan logistik di Indonesia. Dulu hanya perusahaan-perusahaan asing saja yang melakukan alihdaya kegiatan logistiknya, sekarang mulai banyak perusahaan lokal mengoutsource kegiatan logistik.

Sementara pertumbuhan market logistik tidak hanya di Jakarta saja, bahkan di luar Jakarta pertumbuhan logistik
luar biasa besar. Ditambah lagi ,dengan menjamurnya minimarket yang mulai banyak membangun distribution
center. Ada dua hal penyebab pertumbuhan pasar logistik di Indonesia, pertama pertumbuhan secara fisik dan kedua dari sisi jarak pendistribusian barang. Dari dua hal tersebut menyebabkan bisnis logistik menjadi besar.

Investasi asing juga membuat bisnis logistik kian deras setelah daftar negatif investasi (DNI) dilonggarkan dimana investor asing kini boleh memiliki saham hingga 67 persen. Perkembangan e-commerce dan infrastruktur juga dipercaya bakal menunjang bisnis logistik.

Tidak hanya itu, awal September lalu Lembaga pemeringkat Fitch Ratings (Fitch) mengafirmasi peringkat Indonesia di level layak investasi (Investment Grade). Dalam siaran persnya, Fitch memberikan afirmasi atas Sovereign Credit
Rating Republik Indonesia pada level BBB/outlook stabil.

Beberapa faktor kunci yang mendukung keputusan tersebut, yaitu beban utang pemerintah yang relatif rendah, dan prospek pertumbuhan ekonomi yang baik di tengah tantangan sektor eksternal yang antara lain berasal dari tingginya ketergantungan terhadap pembiayaan eksternal serta indikator struktural lainnya yang masih di bawah negara peers.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyatakan, afirmasi rating Indonesia pada level BBB dengan outlook
stabil merupakan cerminan keyakinan lembaga rating atas perekonomian Indonesia. Komitmen yang kuat dalam menjaga stabilitas dan memperkuat ketahanan ekonomi di tengah ketidakpastian global yang terus berlanjut mencerminkan kebijakan otoritas yang kredibel.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia dan beban utang Pemerintah dinilai lebih baik dibandingkan dengan negara peers.
Pertumbuhan PDB Indonesia diperkirakan meningkat menjadi 5,2 persen pada 2019 dan 5,3 persen pada 2020 dengan didukung oleh belanja infrastruktur publik yang berkelanjutan. Sementara tingkat utang pemerintah juga lebih baik dari median (nilai tengah) utang negara peers.

Badan Koordinasi Penanaman Modal atau BKPM mencatat, total nilai realisasi investasi yang masuk dalam periode Januari-Juni 2018 telah mencapai Rp361,6 triliun. Sejumlah kendala pun masih dihadapi saat ini. Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal BKPM, Azhar Lubis menjelaskan, salah satu masalah yang dihadapi masih berkutat pada koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam hal kemudahan perizinan investasi.

Arus masuk investasi portofolio semester I/ 2018 tercatat mengalami minus 1,1 persen. Sebagai catatan, pertumbuhan investasi portofolio sepanjang tahun lalu mencapai 20,6 persen.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Mirza Adityaswara mengungkapkan, pertumbuhan yang minus ini disebabkan oleh pembalikan arus investasi global sejak awal Februari akibat dari normalisasi suku bunga di AS.

“Pembalikan tidak hanya dialami Indonesia, tetapi semua emerging market,” ujar Mirzabelum lama ini.

Namun, dia yakin ke depan pertumbuhan investasi langsung akan kembali tumbuh lebih baik seiring dengan
upaya pemerintah terus mengundang investasi asing langsung untuk masuk. Salah satunya, upaya pengembangan
Online Single Submission (OSS), sebagaimana dikutip dari bisnis.com.

Di samping itu, dana pembangunan infrastruktur angkanya sangat tinggi. Pemerintahan Jokowi-JK membutuhkan
dana lebih dari Rp 5.000 triliun untuk pembangunan infrastruktur selama lima tahun. Dalam RPJMN 2015-2019, pemerintah butuh anggaran sekitar Rp 5.519 triliun. Anggaran yang besar itu tidak bisa hanya mengandalkan uang negara atau APBN. Pemerintah butuh dukungan pembiayaan dari swasta, termasuk dari luar negeri, dan juga melalui BUMN.

Berdasarkan data Bappenas, sumber pendanaan berasal dari APBN hanya 40,14 persen atau sebesar Rp 2.215 triliun. Sebesar 9,88 persen dari APBD atau senilai Rp 543 triliun. Sedangkan dukungan swasta diharapkan sekitar 30,66 persen atau senilai Rp 1.690 triliun dan 19,32 persen (Rp 1.060 triliun) dari peran BUMN.

Massif-nya pembangunan infrastruktur tersebut, menjadi salah satu yang memberi kontribusi membengkaknya
market size logistik. Disinyalir pembangunan infrastruktur di Indonesia akan terus berlanjut sampai RPJMN 2020 – 2025 mendatang.

Berdasarkan penelitian Armstrong & Associates, Indonesia menjadi negara dengan persentase Logistics Costs terhadap GDP terbesar di dunia meskipun dari tahun 2013 ke 2015 terjadi penurunan dari 27 persen menjadi 24 persen namun masih tingginya angka Logistics Costs to GDP Indonesia menyebabkan daya saing Indonesia semakin turun. Daya saing global Indonesia menempati peringkat 41 dari 138 negara, namun dalam hal kualitas infrastruktur Indonesia menempati peringkat 60 dari 138 negara dan Logistic Performance Index (LPI) Indonesia masih rendah,
sebagaimana dikutp dari djkn.kemenkeu.go.id.

Sementara berdasarkan keterangan lembaga konsultan internasional, Frost & Sullivan, memperkirakan industri logistik Indonesia akan tumbuh 15,4 persen dengan nilai Rp. 4396 triliun pada tahun 2020. Pertumbuhan yang signifikan itu didorong oleh konsumsi penduduk, perbaikan infrastruktur serta investasi asing.

Bila pada 2015, market size industri transportasi logistik diperkirakan mencapai Rp 2.152 triliun, maka menurut
Gopal angka ini akan meningkat sekitar 15,4 persen, sehingga nilai pasar sektor ini melesat dikisaran angka Rp 4.396,54 triliun.

“Pertumbuhan ekonomi dari tingginya konsumsi penduduk Indonesia, khususnya dari sektor ecommerce terus
berkembang. Tingkat konsumsi sekitar 61 persen populasi perkotaan akan meningkat, sehingga industri berkembang, termasuk logistik,” kata Vice President Global Frost & Sullivan, Gopal R, dalam siaran pers, belum lama ini. (*/gus)n