Ekspor Cenderung Stagnan Faktor Pemberat Ekonomi 2019
Pertumbuhan ekspor yang cenderung stagnan masih akan menjadi faktor pemberat bagi pertumbuhan ekonomi tahun depan.
Ekonom PT Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih mengungkapkan kinerja ekspor tidak bisa dikontrol ke depannya, terutama jika Indonesia masih bergantung pada komoditas.
“Masih berat karena pasar ekspor komoditasnya juga terbatas seperti China, India dan Jepang,” papar Lana, (25/12).
Jika Indonesia membuka pasar baru, Lana menilai langkah ini akan memerlukan waktu. Sekalipun ada perjanjian
antara pemerintah, peran ekspor dan impor tetap saja ujungnya bergantung pada pola business to business.
Selain itu, nilai tukar rupiah yang melemah cenderung memberatkan bagi ekspor barang manufaktur karena harga bahan bakunya pasti naik.
“Jadi kalau mau mengandalkan ekspor seperti saat ini yang berbasis komoditas, satu tahun ke depan itu masih
berat,” ujar Lana.
Faktor global akan sangat dominan bagi pergerakan harga dan volume permintaan. Dia memperkirakan pertumbuhan ekspor Indonesia hanya sekitar 7 persen-8 persen, tidak jauh berbeda dari tahun ini.
Dengan ekspor yang cenderung stagnan, dia berharap kontribusi pertumbuhan dari sisi konsumsi rumah tangga, investasi dan belanja pemerintah bisa ditingkatkan.
“Konsumsi rumah tangga saja, jika bisa tumbuh 5,2 persen seperti di kuartal II dan III lalu, pertumbuhan ekonomi bisa sekitar 5,1 persen,” ungkapnya.
Oleh karena itu, dia berharap belanja pemerintah yang sifatnya menopang konsumsi rumah tangga dapat berjalan mulai kuartal I/2019.
Ekonom Indef Bhima Yudhistira menuturkan tantangan tahun depan cukup berat dengan berlanjutnya trade war dan fluktuasi harga komoditas perkebunan.
“Overall proyeksi growth ekspor tahun depan diperkirakan 7,8 persen-7.9 persen,” ujar Bhima.
Dia berharap ada pertumbuhan yang baik untuk ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil /CPO) seiring dengan dihapusnya pungutan ekspor sawit. Ini dapat meningkatkan daya saing komoditas CPO Indonesia di pasar global. */gus)n

