Bisnis EkonomiGeneralNasionalPendidikan

MEWUJUDKAN KEMANDIRIAN INDUSTRI PERTAHANAN GUNA MENINGKATKAN KUALITAS ALUSISTA HANKAM DALAM RANGKA KETAHANAN NASIONAL

Oleh:

 Dr. Ir. A.R. ADJI HOESODO,  SH, MH, MBA

Ketum Josay, Akademisi, Pengusaha, & Alumni PPSA XXI Lemhannas RI

 

 LATAR BELAKANG DAN POKOK MASALAH

 Semenjak  disahkan  pada  Tanggal  2  Oktober  2012,  sudah  tiga  tahun  Undang-Undang  RI Nomor  16  Tahun  2012  menjadi  payung  hukum  pelaksanaan  kemandirian  industri  pertahanan.Berbagai  alat  peralatan  pertahanan  dan  keamanan  sudah  dapat  dipenuhi  oleh  industri  pertahanan dalam  negeri  seperti  panser  Anoa  6×6,  senapan  serbu,  pesawat  patrol  maritim  CN-235  MPA  dan beberapa kapal cepat rudal. Berbagai alat peralatanpertahanan dan keamanan ini dibutuhkan untuk mengejar  target  kekuatan  pokok  minimum  (minimum  essential  force)  yang  telah  disusun.  Idealnya semua kebutuhan alat peralatan pertahanan dan keamanan dapat dipenuhi oleh industri pertahanan dalam  negeri,  namun  ternyata  hal  tersebut  belum  bisa  terwujud  disebabkan  beberapa  faktor permasalahan,  diantaranya  permasalahan  dari  implementasi  konsep  tiga  pilar  pelaku  industri pertahanan, permasalahan dari implementasi konsep kluster industri pertahanan dan  permasalahan imbal dagang, kandungan lokal dan  offsetatas pengadaan alat peralatan pertahanan dan keamanan dari luar negeri.

  

POTRET/ FAKTA-FAKTA

Industri  pertahanan  adalah  industri nasional,  baik  milik  pemerintah  maupun swasta  yang  produknya  baik  secara mandiri  maupun  kelompok,  termasuk  jasa perawatannya  dapat  dimanfaatkan  untuk kepentingan  pertahanan  Negara.  Industri pertahanan  merupakan  jawaban  dari tantangan keperluan pencapaian  Minimum Essential  Force (MEF)  di  lingkungan  TNI dan  sekaligus  sebagai  jawaban  atas pengalaman  pahit  atas  embargo  militer pada  dekade  90-an.  Suatu  Negara  yang memiliki  industri  pertahanan  dianggap mempunyai  keuntungan  strategis  dalam tatanan  global  dikarenakan  dianggap mampu  melakukan  penangkalan  dan menjawab  tantangan  atau  ancaman  yang senantiasa berubah. Upaya  perwujudan  kemandirian industri  pertahanan  tidak  terlepas  dari konsep  tiga  pilar  pelaku  industri pertahanan  dan  konsep  kluster  industri pertahanan.  Konsep  tiga  pilar  pelaku industri  pertahanan  mengacu  pada hubungan  yang  terpadu  antara  Perguruan Tinggi  dan  komunitas  Penelitian  dan Pengembangan  (Litbang)  sebagai pengembang  Ilmu  Pengetahuan  dan Teknologi  (Iptek)  pertahanan,  sektor industri/swasta  sebagai  pendaya  guna hasil  Iptek  pertahanan,  produksi  maupun distribusinya, serta TNI sebagai pengguna.

Sedangkan  konsep  kluster  Industri pertahanan  artinya  adalah  adanya  saling keterkaitan  dan  saling  mendukung  antara industri  hulu,  industri  hilir,  industri pendukung  dan  industri  terkait  untuk menciptakan daya saing dan meningkatkan industri  nasional.  Dari  sisi  regulasi, perwujudan  kemandirian  industri pertahanan  juga  di  back-up oleh  UndangUndang  Republik  Indonesia  nomor  16 Tahun  2012  tentang  Industri  Pertahanan (Idhan)  yang  didalamnya  terdapat kewajiban  menggunakan  Alat  Utama Sistem  Senjata  (Alutsista)  produksi  dalam negeri.  Di  dalam  UU  Inhan  tersebut  juga didorong  upaya  alih  teknologi,  ataupun pendanaan  dalam  bentuk  offset dan  juga imbal  dagang  untuk  produk  alat  peralatan pertahanan  dan  keamanan  yang didatangkan  dari  luar  negeri  disebabkn industri  pertahanan  dalam  negeri  belum mampu  membuatnya.  Selain  UU  Inhan, perwujudan  kemandirian  industri pertahanan  juga  diatur  dalam  Peraturan Pemerintah  Republik  Indonesia  nomor  74 Tahun  2014  tentang  Mekanisme  Imbal Dagang  dalam  Pengadaan  Alat  Peralatan Pertahanan  dan  Keamanan  dari  Luar Negeri. Keberhasilan  upaya  perwujudan kemandirian  industri  pertahanan  sangat bergantung  kepada  sinergi  3  pilar  pelaku industri  pertahanan  dan  berjalannya konsep  kluster  di  atas  pada  sektor-sektor industri  yang  saling  mendukung.  Untuk mengetahui  sejauh  mana  kedua  konsep berjalan dengan baik, maka perlu dilakukan penelusuran  mengenai  permasalahan permasalahan  yang  terjadi  dan  tantangan ke  depan  dalam  upaya  mewujudkan kemandirian industri pertahanan.

 

POKOK-POKOK PERSOALAN

Pada  bagian  ini  akan  dilakukan pembahasan  mengenai  permasalahan yang  timbul  dalam  mewujudkan kemandirian industri pertahanan sebagai berikut :

1   Permasalahan  dari  Implementasi Konsep  Tiga  Pilar  Pelaku  Industri Pertahanan

2   Permasalahan  dari  Implementasi Konsep Kluster Industri Pertahanan

3   Permasalahan  Imbal  Dagang, Kandungan  Lokal  dan  Offset  untuk Pengadaan dari Luar Negeri

  1. Masalah Kualitas SDM

 

POKOK-POKOK PEMECAHAN MASALAH

 Pemecahan  Masalah  Implementasi Konsep Kluster Industri Pertahanan

Permasalahan  implementasi  konsep kluster  industri  dapat  diatasi  bila  ada keseriusan  dari  pemerintah  untuk melakukan  pembenahan aupun penambahan  infrastruktur  pendukung industri  pertahanan,  baik  industri  hulu maupun industri hilir. Hal ini penting sekali karena pembenahan Maupun penambahan infrastruktur  baru  akan  menambah kemampuan  memproduksi  komponen komponen  lokal  yang  dibutuhkan  untuk mendukung  produksi  alat  peralatan pertahanan  dan  keamanan  yang dibutuhkan.  Semakin  banyak  komponen lokal yang mampu dibuat di dalam negeri, maka  semakin  besar  kandungan  lokal dalam suatu alat peralatan pertahanan dan keamanan  yang  dibuat.  Hal  ini  juga memiliki  dampak  positif  semakin berkurangnya  ketergantungan  pengadaan komponen  dari  luar  negeri,  semisal kebutuhan  suku  cadang  maupun  amunisi. Sebagai  contoh,  untuk  mewujudkan keinginan  mampu  membuat  kapal  selam hasil  kerja  sama  dengan  Korea  Selatan, pemerintah menggelontorkan  dana  Rp  1,5 triliun  untuk  membangun  infrastruktur pembangunan  kapal  selam  di  PT.  PAL Indonesia.  Dana  Rp  1,5  triliun  ini merupakan  dana  tahap  awal  yang digelontorkan  pemerintah  dari  total kebutuhan  Rp  2,5  triliun  untuk pembangunan  infrastruktur  kapal  selam, sesuai dengan Surat Menteri BUMN nomor S-396/MBU/2014  tanggal  7  Juli  2014. Kekurangan Rp 1 triliun lagi akan diusulkan dalam RAPBN tahun berikutnya lagi.

Pemecahan Masalah Imbal Dagang, Kandungan Lokal dan Offset

Permasalahan  imbal  dagang, kandungan  lokal  dan  offset terkait  erat dengan  pengadaan  alat  peralatan pertahanan dan keamanan dari luar negeri. Contoh  nyata  yang  mencakup  ketiganya adalah  kerja  sama  antara  Pemerintah Indonesia  dengan  Korea  Selatan  dalam joint  development pesawat  tempur KFX/IFX.  Imbal  dagangnya  adalah berdatangannya alat peralatan pertahanan dan  keamanan  dari  Negeri  Ginseng tersebut masuk ke Indonesia, semisal LVT-7 eks US Marine Corps, howitzer KH-178, panser kanon Tarantula dan pesawat F/A-50.  Dari  pendanaan  program  joint development pesawat  KFX/IFX  Tersebut, Indonesia  memiliki  kontribusi  pembiayaan 20:80  Berbandingpembiayaan  yang dilakukan  Korea  Selatan.  Di  dalam  Scope of  Cooperation,  pihak  Indonesia  akan mendapatkan 1 unit prototipe pesawat dari 6 unit prototipe pesawat yang dibuat. 1 unit prototipe  tersebut  akan  diserahkan  Korea Selatan  kepada  Indonesia  setelah  seluruh uji terbang dilaksanakan (pesawat pertama sampai  Dengan  keenam)  dengan  catatan para  teknisi  dan  pilot  uji  dari  Indonesia akan  terlibat  secara  aktif  dalam  proses produksi  prototipe  dan  proses  uji  terbang seluruh  prototipe  tersebut.  Setelah  itu, prototipe  akan  diserahkan  ke  Indonesia untuk  dilakukan  final  Assembly,  test  and evaluation kembali. Selain  itu,  dari  hasil  Perundingan kedua  negara,  akan  diproduksi  120  unit pesawat  tempur  KFX/IFX  ini  dengan Indonesia  akan  mendapat  sekitar  50-an pesawat.  Pesawat-pesawat  ini  akan dibangun  di  Indonesia  mengingat  sesuai kesepakatan,  selain  melakukan  final assembly sendiri, Indonesia  juga membangun  lini  produksi  dengan  biaya sendiri.  Tentunya  semua  program  dalam joint  development pesawat  KFX/IFX  ini merupakan  lompatan  yang  besar  bagi upaya  perwujudan  kemandirian  industri pertahanan  dalam  negeri  di  bidang pesawat  tempur.  Kita  berharap  lompatan besar untuk alat peralatan pertahanan dan keamanan yang lain sehingga pengadaanpengadaan  dari  luar  negeri  bisa  kita minimalisir.

 

Dari  pembahasan  di  atas,  dapat disimpulkan  bahwa  Permasalahan Permasalahan yang muncul seputar upaya perwujudan  kemandirian  industri pertahanan  dapat  diatasi  roadmap yang jelas, komitmen dan sinergi di antara para pelaku  industri  pertahanan.  Hal  tersebut juga  perlu  didukung  oleh  dukungan pembangunan  infrastruktur-infrastruktur baru  yang  dapat  menunjang  sinergi hubungan antara industri hulu dan industri hilir di dalam memenuhi kebutuhan inudstri pertahanan  dalam  negeri.  Selain  itu diperlukan  juga  keberanian  pemerintah untuk Mengimplementasikan imbal dagang, kandungan  lokal  maupun  offset  akibat adanya  pengadaan  alat  peralatan pertahanan dan keamanan dari luar negeri, baik  itu  melalui  alih  teknologi, pengembangan  bersama  (joint development),  produksi  bersama,  dan  lain sebagainya.  Masalah SDM pemerentah harus memperhatikan peningkatan baik dari segi peneliti maupun manajemen pengelolaan SDM berkeahlian khusus di bidang alih teknologi alusista ini dan diharapkan mampu berinovasi dan tergantung dengan keahlian SDM dari Vendor Alusista dari negara lain.

 

ALUR PIKIR