JOSAY DAN PANA INDONESIA BEKERJASAMA PERANGI NARKOBA

Beberapa waktu yang lalu bertempat di Kabupaten Bogor diadakan Ikrar Pemuda Anti Narkoba. Dalam acara ini dihadirkan Ketua Umum Josay sekaligus Ketua Dewan Pembina Pana Indonesia yaitu Prof. Dr. Ir. A.R. Adji Hoesodo, SH, MH, MBA memberikan suatu orasi ilmiah mengenai masalah Narkoba atau Napza.
Juga memberikan sambutan disini Ketua Umum Pana Indonesia Bapak H. Ikat Karmawan, S.Si, M.Si dan dari Kesbangpol Kabupaten Bogor Bapak Wawan Darmawan dan BNN Kabupaten Bogor yang diwakili oleh Kepala Seksi F2M BNN Kabupaten Bogor Ibu Rika Indriati R.Sp. M.Si.
Dalam hal ini Josay mendukung Pana Indonesia untuk memerangi narkoba sebagai upaya kerja nyata melakukan kampanye akan bahaya narkoba dimana narkoba merupakan musuh Negara. Dimana cara-cara yang dilakukan oleh suatu sistem untuk merusak Bangsa Indonesia yang disebut salah satu upaya dari proxy war, sehingga dengan proxy war ini diharapkan generasi muda kita akan rusak, hancur karena narkoba ini, sehingga Indonesia hanya tanpa melalui perang fisik cukup dengan proxy war melalui narkoba ini negeri kita yang kaya raya ini akan menjadi hancur dan mudah ditaklukkan secara ekonomi oleh bangsa lain.
Ketua Umum Josay sekaligus Dewan Pembina Pana Indonesia mengemukakan bahwa penduduk Indonesia saat ini adalah sebesar 266 juta dimana pecandu pada tahun 2017 itu sekitar 3,5 juta dan pecandu anak mencapai 5,9 juta dari total 87 juta anak yang ada di Indonesia dan korban meninggal itu adalah 40 orang per hari. Disini potensi kerugian Negara akibat narkoba ini sekitar 74,4 trilyun. Data ini merupakan suatu survey yang dilakukan selama ini.
Dalam kesempatan ini Ketum Josay juga mengatakan bahwa cara mencegah narkoba pastinya melalui teori supply and demand. Jadi bagaimana supply-nya ini dibatasi sampai nol atau dilawan dan demand-nya itu kalau bisa di nol-kan, karena dari adanya demand atau permintaan ini, pastinya akan selalu menghidupkan supply . Dengan kata lain, menolkan supply berarti kita harus memerangi bandar-bandar, pengedar melalui kerjasama antar aparat pemerintah dibantu oleh masyarakat dan seluruh elemen masyarakat yaitu melibatkan TNI, BNN dan pihak Kepolisian. Disini dari pintu-pintu masuk di Indonesia kalau dilihat dari kondisi geografis sangat mudah sekali untuk dimasuki oleh pengedar dari luar. Begitu pula untuk pengedar yang dari dalam perlu adanya aparat Kepolisian melakukan suatu penelitian atau penginvestigasian lebih intensif.
Sedangkan untuk demand upaya yang dilakukan adalah bagaimana kita juga memberikan suatu kampanye tentang narkoba di kalangan remaja. Hal ini karena penggunaan narkoba salah satunya dipicu dari pergaulan sehingga memunculkan demand. Faktor lain adalah perhatian keluarga, karena keluarga merupakan suatu pondasi yang paling utama di masyarakat yang lebih besar untuk melakukan suatu pengawasan. Kondisi yang kondusif ini akan menghilangkan Demandnya dan tidak adaya demand artinya supply itu pasti akan tidak ada pula. Itulah sebenarnya secara mudah bagaimana teori ini dapat diterapkan di Indonesia.
Kalau kita lihat disini dengan penduduk 266 juta dan setiap tahun terjadi suatu pertambahan penduduk artinya dengan kondisi narkoba ini sangat erat sekali dengan kemajuan suatu bangsa. Jadi kalau generasi muda tidak produktif karena kena narkoba dan Indonesia pasti suatu saat butuh kepemimpinan generasi muda ini, lebih lagi dengan adanya prediksi bonus demografi yang akan dicapai di kemudian hari, pastinya tidak akan tercapai. Kita tidak bisa punya suatu generasi penerus yang kuat, tidak punya tentara yang kuat, tidak bisa punya orang-orang yang bisa memimpin Negara ini karena narkoba sudah masuk di semua kalangan di Indonesia. Sehingga perlu sekali menjadi sebuah penekanan kenapa Josay dan Pana Indonesia bekerjasama untuk memerangi narkoba.
Josay dan Pana Indonesia sepakat untuk;
Pertama, mengadakan kampanye anti penyalahgunaan narkoba di seluruh Indonesia
Kedua, membentuk Detox Centre melalui TC (Therapeutic Community). TC ini melibatkan tenaga medis dan tokoh masyarakat yang akan dilatih suatu team yang disediakan oleh Josay dan Pana Indonesia
Ketiga, akan dilakukan suatu kerjasama-kerjasama tempat untuk dilakukan pengembangan dari Therapeutic Community atau terapi komunitas ini.
Disini pastinya kalau kita membuat TC, karena melihat bahwa pemerintah tidak mungkin punya dana untuk menyiapkan infrastruktur untuk rehabilitasi, kita bahu-membahu untuk membantu bagaimana pusat rehabilitasi yang berbasis IPWL yang akan diurus dikemudian hari secara profesional dan legal.
Dalam acara Ikrar ini, selain dihadiri oleh beberapa pengurus Pana Indonesia dan Josay dihadiri pula oleh ratusan pelajar SMP, SMA, beberapa perguruan tinggi, juga beberapa pejabat terkait dan perwakilan dari 40 Kecamatan se-Kabupaten Bogor.
Dalam kesempatan ini juga Bapak H. Ikat Karwaman,S.Si, M.Si selaku Ketum Pana Indonesia mengatakan untuk merapatkan barisan, konsolidasi organisasi dan kerjasama antar lembaga dan akan membuat suatu program kerja yang rutin untuk membuat suatu kampanye di kalangan pelajar dan mahasiswa di seluruh Indonesia. Tampil disini juga memberikan masukan adalah Bapak Drs. Nana Mulyana, M.Si selaku Camat Kecamatan Kemang Kabupaten Bogor. (Andika, Josay Pers)

