STRATEGI PIMPINAN HTI PERMALUKAN TNI

Oleh

Trinov Fernando Sianturi, A.Md.Par, SH

Wakil Ketua Umum Josay Institute Bid Hub Lembaga dan Organisasi

Ketua Yayasan Pendidikan Kemajuan Bangsa Medan

Pengacara dan Konsultant Hukum

Ketum Perkumpulan Generasi Muda Poparan Sianturi Simataniari ( GM PAPOSMA )

Ketua DPD Sumut Gerakan rakyat Cinta NKRI (Gercin NKRI )

Saya merasa sangat bangga dan terharu ketika ada seorang President yang berasal dari Sipil, berbadan kurus, dan menjadi President pertama kali dengan dukungan dari partai serta parlemen yang kurang, berani menutup dan melarang keberadaan HTI di NKRI serta membubarkannya melalui Peraturan Pemerintah Pengganti UU No. 2 Thun 2017 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 17 Tahun 2013 tentang ormas. Keberanian President jokowi ini patut di hargai dikarenakan selama dimulainnya Reformasi sejak Tahun 1998, tak ada satupun President yang berani bubarkan HTI ( Khususnya President SBY ), padahal HTI jelas-jelas membawa pesan dan tertulis di AD/RT mereka bahwa HTI memperjuangkan Khilafah dan anti Pancasila di NKRI.

Sejak jaman Pemerintahan SBY (10 Tahun ), para pemimpin HTI dapat dikatakan cukup berhasil dalam menempatkan kader-kader mereka yang terbaik di sektor-sektor pemerintahan dan bahkan banyak para pejabat di Pemerintahan merupakan Simpatisan HTI dan bahkan anggota aktif HTI ( Ingat Mantan menteri Olahraga Adiaksa Daud) yang mengahadiri dengan semangat acara HTI. HTI merasakan diberikan kebebasan sebesar-besarnya dan menikmati betul untuk menjalankan Program inti mereka yaitu menegakkan Khilafah dengan tegas di indonesia sejak jaman pemerintahan SBY.

Pasca reformasi 1998 ( telah 21 tahun ) sampai sekarang, bukan tidak mungkin bahwa kader-kader HTI sudah menjadi petinggi di BUMN, PNS, Polisi, Jaksa, Hakim, dan Juga TNI. Dan saatnya para kader-kader HTI yang mugkin telah menjadi salah satu petinggi di Instansi mereka masing-masing untuk membalas Budi dan membela keberadaan HTI dengan cara senyap serta hati-hati. Mengingat President Jokowi sudah mencium bau busuk HTI sehingga membubarkannya, jadi hal yang sangat wajar sekali pada saat Pilpres kemarin mereka para kader-kader HTI mati-matian perjuangkan Prabowo dengan memainkan isu-isu SARA yang hampir mengorbankan Pancasila dan UUD 1945 yang merupakan Tiang yang harus kita jaga dan pelihara demi NKRI.

Dan sekarang sudah mulai tercium berkat teknologi Medsos yang dimana jejak digital seseorang tidak bisa terhapus dan sangat gampang dilacak oleh masyarakat yang masih menginginkan Pancasila dan Indonesia. Salah satu yang heboh yaitu Bagaimana mana mungkin Panitia seleksi AKMIL bisa kecolongan atas ditrimanya seorang Enzo yang sangat diduga kuat dengan bukti-bukti yang dapat ditrima di AKMIL..? Apakah para panitia seleksi ini Gaptek akan Teknologi ? Apakah sebodoh itu panitia seleksi AKMIL tidak dapat mendeteksi si ENZO ?.. Kenapa Tim Panitia Seleksi AKMIL tidak mampu ?. Penulis sangat-sangat nyakin bahwa diduga kuat ada didalam team panitia seleksi AKMIL AD adalah seorang simpatisan ataupun pengikut HTI..President Jokowi harus perintahkan Panglima TNI agar mengusut dengan tuntas kenapa seorang yang juga keluarganya pendukung HTI bisa lolos masuk AKMIL, terlalu naif kalau keberadaan enzo serta keluarganya tidak di ketahui oleh Panitia seleksi tersebut.

TNI adalah Garda terakhir yang menjadi benteng serta pertahanan Indonesia untuk tetap menjaga Pancasila dan UUD 1945, apa yang akan terjadi 15-25 tahun ke depan ketika para kader-kader HTI ini yang berhasil masuk dan menduduki jabatan penting TNI. Bukan tidak mungkin mereka akan mengarahkan dan mendukung Khilafah dikarenakan mereka memilikin pasukan dan senjata serta memilikin Anggota di Parlemen yang ada saat ini yang kuat di duga PKS adalah bagian dari perjuangan politik di parlement Indonesia untuk menegakan Khilafa. Dan akhirnya terjadilah perang saudara, dan pertumpahan darah antar sesama anak Bangsa. Gimanapun bahwa suka tidak suka, senang tidak senang bahwa Indonesia terdiri dari beragam suku dan agama, yang dimana semua suku serta agama berjuan bersama-sama untuk memerdekan Indonesia dari para Penjajah. Segera Panglima TNI memngambil sikap tegas yaitu dengan menyelidikin semua oknum oknum TNI khusunya di Angkatan Darat, dan segera pecat dengan tidak hormat bagi mereka-mereka yang jelas-jelas nyata dan mendukung HTI. Jangan biarkan mereka menjadi kuat dan menikmatin uang keringat Rakyat, namun di otak dan kepala mereka serta isi hati mereka yaitu menginginkan Indonesia menjadi negara Khilaf serta mengganti Ideologi Pancasila.

Hal yang sama juga perlu juga di selidiki atas matinya lampu secara masaal dan cukup lama yang baru-baru ini, jangan dianggap kejadian itu adalah kejadian yang bisa. Mengingat diduga kuat para petinggi di BUMN banyak diduga bergabung dan menjadi simpatisan HTI. Cari mereka-mereka ini yang sedang enak-enak menikmatin uang Negara tapi di otak serta kepala mereka dan hati mereka bahwa mereka inginkan Indonesia menjadi Negara Khilafa dan mengganti Pancasila. Ini berbahaya kalau banyak para pejabat BUMN menjadi simpatisan dan pendukung HTI, karena dana dana CSR yang jumlahnya sangat banyak di BUMN sangat-sangat mungkin di berikan serta diarahkan ke lembaga-lemabaga masyarakat yang memiliki visi dan misi yang sama dengan HTI. Karena HTI telah di bubarkan oleh Jokowi, maka secara otomatis para pengurus dan anggota yang aktif di HTI akan mencari tempat atau wadah untuk menyampaikan inspirasi mereka tentang Indonesia Syariah.

Akhir kata penulis menyimpulkan bahwa dengan kejadian Enzo dengan masuk ke AKMIL AD merupakan pukulan telak serta permemalukan TNI khususnya Angkatan Darat, dan mungkin ada ratusan enzo-enzo yang lain ada di TNI dan Polisi, untuk itu Panglima TNI harus tegas untuk check dan mendata semua oknum-oknum TNI yang terlibat dengan HTI. Segera pecat mereka dan jangan biarkan mereka menjadi Besar dan Kuat. Tetap jaya Indonesiaku dengan Pancasil sebagai Indeologi Bangsa Indonesia..Merdeka

*( isi merupakan pendapat profesional pribadi )