PERAN PERGURUAN TINGGI DALAM TRANSFORMASI KEPEMIMPINAN NASIONAL DAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

Oleh

Prof.Dr.Ir.A.R.Adji Hoesodo,MD(H),SH,MH,MBA

Ketum Josay, Akademisi, Pengusaha dan Alumni PPSA XXI Lemhannas RI

Disampaikan dalam orasi Ilmiah di  DPP PERSAUDARAAN DOSEN REPUBLIK INDONESIA

Jumat, 26 Oktober 2018 , Gedung Nusantara 1 DPR RI Senayan Jakarta

 

Pendahuluan

Sebuah organisasi yang kita sebut perguruan tinggi adalah  sebuah organisasi atau institusi yang harus antisipasif dan dinamis dari perubahan eksternal yang sangat dinamis baik di tingkat nasional maupun global. Dalam  menghadapi tantangan itu, maka peran perguruan tinggi sebagi pusat pengetahuan, pusat penelitian dan pusat pengabdian masyarakat harus dikelola sebagai sebuah entitas korporat agar tetap mempunyai daya saing dalam menjamin kelangsungan hidupnya. Sebelum kita merangkai pemikiran dari tema diatas, maka kita perlu mengkaji definisi dari Tridharma Perguruan Tinggi dulu, sehingga kita akan tahu kemana Tema ini akan kita bawa.

Tridharma Perguruan Tinggi yang selanjutnya disebut Tridharma adalah kewajiban perguruan tinggi untuk menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (UU No. 12 Tahun 2012, Pasal 1 Ayat 9)

  • Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

 

  • Penelitian adalah kegiatan yang dilakukan menurut kaidah dan metode ilmiah secara sistematis untuk memperoleh informasi, data, dan keterangan yang berkaitan dengan pemahaman dan/atau pengujian suatu cabang ilmu pengetahuan dan teknologi.

 

  • Pengabdian kepada masyarakat adalah kegiatan sivitas akademika yang memanfaatkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi untuk memajukan kesejahteraan masyarakat dan mencerdaskan kehidupan bangsa

Setiap negara di belahan dunia ini pasti mengimpikan masa depan yang gemilang. Masa depan yang gemilang hanya dapat dibangun oleh sumber daya manusia yang berkualitas tinggi dan bukan dari kekayaan sumber daya alamnya (Djojohadikusumo, 1993). Di samping itu, masa depan yang gemilang itu juga tidak terlepas dari kapabilitas kepemimpinan nasional dengan menggandeng perguruan tinggi sebagai mitra strategis dalam Pembangunan sebuah peradaban yang maju di masa depan.

Bisa dikatakan bahwa pola dan arah perkembangan ekonomi masyarakat dalam jangka panjang dipengaruhi oleh serangkaian empat faktor dinamika yaitu sumber daya manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi, sumber daya alam dan kapasitas produksi yang terpasang. Ke-empat faktor dinamika itu harus dilihat dalam kaitan interaksinya satu dengan yang lainnya. Namun diantaranya peranan sumber daya manusia dan kualitasnya mengambil tempat yang sentral, dilengkapi dengan penguasaannya atas bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebab, kedua rupa dinamika ini pada hakikatnya akan menentukan kemampuan masyarakat yang bersangkutan dalam hal pemanfaatan, pemeliharaan dan pengamanan kekayaan alam maupun dalam hal pengelolaan dan perawatan kapasitas produksi terpasang dengan sebaik-baiknya.

Langkah strategis yang di tujukan untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas adalah pendidikan. Mengingat pentingnya peran pendidikan bagi kemajuan pembangunan sebuah bangsa, maka tidak mengherankan kalau banyak negara memberikan prioritas pembangunan di sektor pendidikan ini.

Kekuatan daya saing (competitiveness strengths) dapat diukur melalui penilaian kinerja perguruan tinggi, seperti yang diungkapkan Miller (1980) yang menyatakan 10 elemen yang dapat dijadikan penilaian pada perguruan tinggi, yaitu: (1) goal and objectives, (2) student learning, (3) faculty performance, (4) academic programs, (5) institutional support services, (6) administrative leadership, (7) financial management, (8) governing board, (9) external relations, (10) institutional self-improvement.

Dalam kontek Organization Learning dimana perguruan tinggi sebagai organisasi yang adaptif dan antisipasif terhadap segala bentuk perkembangan jaman maka bentuk organisasi, visi & dan misi suatu perguruan tinggi, adalah pembinaan berbagai disiplin–disiplin ilmu pengetahuan yang agak sangat spesialistis, berbentuk berbagai institusi-institusi yang dinamakan leerstoel (kursi pengajaran). Berbagai leerstoel-leerstoel inilah bersatu terorganisasi menjadi suatu universitas, yang tugas-tugasnya adalah melaksanakan pengajaran yang terkait erat dengan penelitian. Pada waktu itu memang universitas merupakan fasilitas pendidikan tinggi, hanya bagi para lapisan elite/atas masyarakat, yang dibiayai sepenuhnya oleh pemerintah. Sehingga memang universitas agak terpisah atau menjaga jarak dengan kehidupan hiruk-pikuk aktivitas masyarakat dalam bidang politik, sosial ekonomi dan pemerintah. Seluruh pengajaran dan penelitian ditujukan untuk mengejar kebenaran & ilmu pengetahuan, demi mengembangkan kekuatan moral manusia dan memberdayakan budi manusia. Kehidupan yang agak terisolasi  dan hiruk-pikuk kehidupan politik, sosial dan ekonomi masyarakat, sering disebut sebagai falsafah Menara Gading atau Ivory Tower Philosophy, demi usaha-usaha yang tekun dan sungguh-sungguh mengejar kebenaran dan ilmu pengetahuan tadi tidak terganggu. Walaupun kondisi ini tidak terlepas bahwa output dari perguruan tinggi menjadi aktor politik ataupun aktor dalam bidang kehidupan lainnya di luar kampus. Seperti beberapa aktivis 66 yang banyak menjadi politisi, pengusaha dan negarawan baik selama masih menjadi mahasiswa ataupun setelah lulus dari perguruan tinggi.

Untuk itu maka perlu negara kita  membangun keunggulan kompetitif berkelanjutan dan komprehensif. Menurut Walker (2007) yang harus dilakukan oleh organisasi adalah dengan mengoptimalkan resources capabilities, yang terdiri dari value drivers, cost drivers, retaining customers dan preventing imitation.  Value drivers dan cost drivers akan menciptakan posisi pasar yang kuat (superior market position), sedangkan retaining customers (mempertahankan konsumen) dan preventing imitation (mencegah imitasi produk) akan mendorong posisi pasar yang mampu bertahan (defendable market position).  Jika kedua variabel ini (superior market position dan defendable market position) mampu dipertahankan maka oleh organisasi pada gilirannya akan dapat mewujudkan keunggulan kompetitif berkelanjutan (sustainable competitive advantage).

Pembahasan

Kepemimpinan Nasional (Pimnas) harus mempunyai karakter negarawan yaitu kepemimpinan yang ahli dalam menjalankan negara (pemerintahan); pemimpin politik yang secara taat asas menyusun kebijakan negara dengan suatu pandangan ke depan atau mengelola negara dengan kebijaksanaan dan kewajiban. Kepemimpinan nasional merupakan sebuah fenomena yang berpengaruh langsung dan erat sekali hubungannya dengan perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara. Peran seorang pemimpin nasional dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sangatlah penting, salah satunya sebagai inspirator perubahan, yaitu pemimpin yang memiliki visi jelas mau kemana bangsa ini akan dibawa. Kepemimpinan nasional merupakan aktualisasi cerminan kemampuan sumber daya yang dimiliki sebuah bangsa, sehingga kebijaksanaan nasional dan strategi umum yang diambil akan dilaksanakan oleh pemerintah serta  didukung sepenuhnya oleh rakyat. Kualitas Kepemimpinan Nasional sangat diharapkan dalam mensinergikan perbedaan maupun kemajemukan yang ada guna mewujudkan Cita-cita nasional yaitu mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.   Kepemimpinan Nasional adalah kelompok pemimpin bangsa pada segenap strata kehidupan nasional didalam setiap gatra (Asta Gatra) pada bidang/sektor profesi baik di supra struktur, infra struktur dan sub struktur, formal dan informal yang memilki kemampuan dan kewenangan untuk mengarahkan/ mengerahkan kehidupan nasional (bangsa dan negara) dalam rangka pencapaian tujuan nasional berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Menghadapi berbagai tuntutan perubahan  kondisi bangsa pada saat ini   khususnya berkaitan dengan masalah yang paling mendasar yaitu krisis kepemimpinan nasional. Bangsa Ini  menginginkan   pemerintahan yang bersih, berwibawa , demokratis, adil dan penanganan/penegakkan hukum yang kuat. Pemimpin yang inovatif, gesit, cepat bertindak serta memiliki kemampuan beradaptasi dengan perkembangan lingkungan sangat dibutuhkan dalam menghadapi kondisi yang senantiasa mengalami perubahan pada dewasa ini. Selain daripada hal tersebut diatas, sangat diperlukan sosok peran seorang pemimpin nasional yang bermoral Pancasila  yang diwujudkan dalam setiap pikiran dan tindakannya pada situasi dan  kondisi apapun. Dalam menerapkan  kepemimpinannya dibutuhkan suatu keberanian untuk mengorbankan segala kepentingan pribadi, kelompok maupun golongan demi tercapainya suatu kepentingan yang lebih besar lagi yaitu terjaganya keutuhan NKRI dari bahaya disintegrasi bangsa.

Perguruan Tinggi sebagai organisasi yang mengajarkan kebenaran sangatlah menginspirasi atas Kepemimpinan Nasional dengan proses dan output yang relevan dengan arah Pembangunan Nasional Republik Indonesia.

Berdasarkan laporan terbaru Global Competitiveness Indeks (CGI) 2017-2018 yang disampaikan oleh World Economic Forum, Indonesia menduduki peringkat ke 36 dari 137 negara yang disurvey, kondisi ini menunjukkan adanya peningkatan 5 peringkat dari tahun sebelumnya. Meskipun demikian, di Asia Tenggara, posisi Indonesia berdasarkan GCI masih berada pada ranking ke-4, di bawah Singapura, Malaysia dan Thailand.  Di antara 12 pilar GCI, terdapat 3 pilar yang terkait langsung dengan pendidikan tinggi yang perlu ditingkatkan yaitu kualitas pendidikan tinggi dan pelatihan secara keseluruhan (peringkat ke-64), kesiapan teknologi yang diadopsi oleh industri atau diterapkan di masyarakat (peringkat ke-80), dan efisiensi pasar tenaga kerja (peringkat ke-96). Melihat kondisi faktual tersebut, sebagai perguruan tinggi kita masih harus bekerja keras dan terus mempertajam strategi dalam upaya mewujudkan visi Indonesia Emas di tahun 2045 sebagaimana telah dicanangkan oleh pemerintah Indonesia.

Presiden Jokowi baru-baru ini sering menyebut tentang pembangunan Sumber Daya Manusia Indonesia. Presiden menekankan pembangunan manusia Indonesia dengan segudang kompetensi yang relevan dengan arah pembangunan nasional. Secara implisit ini merupakan tantangan perguruan tinggi untuk menangkap pemikiran Presiden ini.  Dalam upaya mewujudkan visi tersebut, pilar utama yang harus diperkuat adalah pembangunan sumber daya manusia dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Maka dari itu, perguruan tinggi haruslah menjadi motor utama dalam upaya menciptakan sumber daya manusia yang unggul dan menjadi pusat inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dalam model gambar di bawah ini adalah suatu closed loop system yang secara integratif menggambarkan Tujuan Pembangunan Pendidikan Pemerintah melalui DIKTI.

Simpulan

Perguruan Tinggi sangat berperan dalam proses pembentukan peradaban suatu bangsa dan ini sangat berpengaruh dalam  transformasi Kepemimpinan Nasional. Segala Aspek Astagatra ( Geografi, Demografi, SKA, IPOLEKSOSBUDHANKAM ) di Bangsa kita di pelajari dan di kaji dalam berbagai fakultas dan jurusan pada sebuah Perguruan Tinggi. Dan ini menjadi fundamental dalam Tridharma Perguruan Tinggi dalam menunjang Tujuan Pembangunan Nasional.

Perguruan Tinggi juga berperan dalam menjadikan dan mewujudkan kesejahteraan Rakyat. Hal ini dikarenakan Perguruan Tinggi dalam prosesnya akan selalu mengkaji tentang added value di segala sendi kehidupan bangsa. Mulai dari teknologi, sosial budaya, ekonomi, hukum dan berbagai Keilmuan yang digunakan untuk  memajukan negara ini.

Kepemimpinan Nasional di segala tingkatan akan mengimplementasikan hasil kajian Perguruan Tinggi sermasuk salah satu nya membuat kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan rakyat Indonesia.

 

Sumber : Pustaka Lemhannas Ri dan Pustaka  RisTek dikti, UU No. 12 Tahun 2012 dan       berbagai sumber

*Penulis adalah dosen Pasca Sarjana di beberapa PTS Jakarta dan Guru Besar di PTS di Malaysia