MERAMPOK UANG RAKYAT ALA ZAMAN NOW “ JIWASRAYA VS ASABRI “

Trinov Fernando Sianturi, AMD.Par, SH
Wakil Ketua Umum Josay Bidang Hubungan Lembaga dan Organissi
Pengacara, Ketua Yayasan Pendidikan Kemajuan Bangsa, Ketum Perkumpulan Generasi Muda Poparan Sianturi Simataniari Sedunia (PGM  PAPOSMA)

              “Bila engkau jujur dan terbuka, mungkin saja orang lain akan menipumu, bagaimanapun jujur dan terbukalah “. Ini pesan yang disampaikan oleh Bunda Theresia sewaktu semasa hidupnya kepada orang- orang yang ada sekitarnya dan kepada dunia. Pesan Bunda Theresia inilah yang sedang di terapkan oleh President Jokowi di masa periode pemerintahannya yang ke – 2 ini.  Kenapa tidak masa pemerintahannya pada periode pertama? Jawabannya sederhana saja, karena pada masa periode pertama, beliau masih tersandera dengan manuver-manuver politik dan orang-orang yang disekitarnya khususnya para pembantunya yang seharusnya berkata jujur kepada beliau tapi fakta serta kenyataannya banyak para pembantunya pada masa periode pertama bermain peran “ Ular Kepala Dua” dimana satu sisi selalu menyatakan beres dan siap membantu pak Jokowi dengan konsep kejujuran tapi kenyataannya itu hanya sebatas Lips Service (Asal Bapak Senang).  Tidak selaras dengan apa yang ada dipikirannya dengan perbuataannya. Kasus Gagal Bayar (Kerugian) yang dialami oleh Jiwasraya dan Asabri sudah terjadi sejak masa pemerintahan SBY dimana terjadi pembiaran oleh Para Penegak Hukum khususnya KPK dan Kepolisian sehingga puncaknya terbongkar dan akan segera diusut secara tuntas (sudah ditetapkan tersangka dan di tahan 5 orang ) oleh Jokowi pada masa periode kedua ini.

              Gimana dengan KPK..? ini juga pertanyaan besar yang masih ada terlintas di benak penulis. Apa benar KPK tidak mengetahui kasus ini? Apakah KPK tidak bisa menangani kasus ini? Atau jangan-jangan isu selama ini bahwa KPK memang tebang pilih dalam menangani kasus adalah benar apa adanya ? Semua ini hanya KPK yang tahu jawabannya mungkin para pemimpin KPK periode lalu seperti Saut Situmorang, dkk (Yang kelihatan gagahnya dan kelihatan orang paling anti korupsi di Indonesia ini sampai – sampai sering mengkritik pedas Jokowi serta pernah mengudurkan diri tapi tidak jadi..hihi ) tahu jawabannya.  Kok bisa lewat selama 5 tahun kasus Jiwasraya dan Asabri ini dimata KPK, justru kasus kecil-kecil serta uang receh dengan bangga serta gagahnya mereka melakukan OTT serta mempublikasikan secara masif layaknya seperti artis. Kenapa kasus Gajah yang telah merugikan uang nasabahnya sampai 12 – 15 T mereka tidak pernah bongkar, belum lagi kasus Century, kasus Hambalang, dan kasus besar lainnya. Tahu apa jawabannya? Karena para pemimpin KPK tersebut adalah tak lain dan tak bukan hanya seorang kecoak dalam pemberantasan Korupsi, mereka bukan seorang HARIMAU. Karena mereka seorang kecoaklah dalam pemberantasan Korupsi , maka mereka mencari panggung dan sekali-kali coba melakukan manuver politik untuk menyindir serta mengkritik Jokowi ( Mereka bilang Jokowi tidak mendukung pemberantasan Korupsi di negeri ini ). Tolong kasih jawaban ke saya Lae Saut Situmorang, dkk (Pemimpin KPK periode 2014-2019) bagaimana tanggapan anda dengan Jokowi yang sedang beres-beres di tubuh Jiwasraya dan Asabri ?

              “ Tidak ada kesia-siaan yang menguras tubuh kecuali kekhawatiran, dan orang yang punya keyakinan pada Tuhan seharusnya merasa malu kalau masih mengkhawatirkan sesuatu .   Ini juga salah pesan yang sangat berharga yang disampaikan oleh kita semua oleh pemimpin India yang sangat terkenal dengan kesederhanaanya serta rendah hatinya yaitu “Mahatma Gandhi.  Seharusnya para pejabat KPK merasa malu kepada Jokowi atas kasus besar Jiwasraya dan Asabri ini, karena selama hampir setahun mereka para pemimpin KPK Saut situmorang, dkk merasa sangat-sangat khawatir akan keberadaan KPK serta terus menerus menggalang dukungan baik melalui kampus-kampus serta dosen-dosen tentang adanya perubahan Undang-undang KPK. Mereka melakukan tanda tangan, melakukan demo serta melakukan beberapa konfrensi pers dengan menghabiskan waktu, tenaga serta uang negara hanya untuk melawan atas apa yang ditetapkan oleh President yang disahkan oleh DPR (Mereka lupa bahwa NKRI adalah Negara Republik dimana kekuasaan tertinggi ada ditangan Presiden dimana Presiden dipilih langsung oleh Rakyat ).  Mereka berteriak bahwa terjadi pelemahan KPK, berteriak bahwa Presiden Jokowi anti KPK, yang fatalnya lagi ada seorang Advokat yang senior seperti Saor Siagian, dll ikut-ikutan berteriak menyalahkan presiden Jokowi yang telah merubah UU KPK (Saya tidak tahu apa yang sangat jelas jasa Advokat Saor Siagian, Haris Azzar yang sangat signifikan untuk negara ini atas pemberantasan Korupsi).  Semuanya bersatu dan ramai-ramai menyalahkan UU KPK yang baru, yang terbaru tentang OTT kasus suap Wahyu setiawan yang dilakukan oleh kader PDIP. Wah..mereka berteriaknya luar biasa, macam seperti mau memakan bulat-bulat Jokowi dengan PDIP ( Lihat ILC tanggal 14 Januari 2020 di TV One ). Padahal mereka lupa bahwa kasus itu adalah kasus kacangan yang hanya melibatkan oknum pribadi kader PDIP (Harun Masiku, dkk ) dengan Komisioner KPU (Wahyu Setiawan), dimana Harun Masiku hanya mencoba mau jadi anggota DPR lagi dengan cara menyuap Wahyu Setiawan.  Perbuatan ini memang salah, dan Wahyu Setiawan, dkk sudah ditangkap serta Harun Masiku sudah DPO. Artinya ini kasus sudah di proses dan ini kasus tidak ada merugikan uang negara atau uang rakyat sepeserpun.  Ini hanya sebatas orang mencoba menyuap (Bukan merapok atau korupsi uang negara). Kok Saor Siagian, dkk seperti kebakaran jenggot dan memaksa kehendak mereka serta mengeluarkan pernyataan-pernyatan yang sangat sentimen kepada PDIP (Penulis sebagai Advokat Junior sangat malu melihat watak dan perilaku Saor Siagian, dkk atas kasus suap ini). Seharusnya mereka kencang berteriak sekuat-kuatnya atas kasus besar seperti Hambalang, Century, Jiwas raya, Asabri, dll.  Atau jangan – jangan si Saor siagian ini adalah pesanan dari orang-orang yang sangat benci dan sangat kuatir akan kepemimpinan Jokowi. Hanya Tuhan yang tahu isi hati dan kepala bang Saor Siagian, dkk.

              “ Buah dari perenungan adalah DOA, buah dari doa adalah IMAN, buah dari iman adalah CINTA, buah dari cinta adalah PELAYANAN, dan buah dari pelayanan adalah KEDAMAIAN” ini pesan dari Bunda Theresia (Mother Theresia) yang sangat berharga dan penting untuk kita renungi serta kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari khususnya bagi para pencinta KPK, Pejabat Negara dan Politikus. Mari kita sekarang merenungkan dengan baik serta jujur tentang apa sebenarnya yang sedang terjadi di Indonesia ini selama satu periode pemerintahan Jokowi, kita tulis baik-baik didalam sebuah kertas dan setelah itu mari kita berdoa atas apa-apa yang telah kita tulis tersebut dengan hikmat kepada Tuhan. Setelah kita berdoa maka mari kita imani dan percaya bahwa doa kita itu pasti akan dikabulkan oleh Tuhan, dengan iman kita kepada Tuhan dengan baik serta jujur maka secara otomatis perasaan CINTA akan hadir kedalam hati dan sanubari kita secara meyuluruh, dengan adanya perasaan CINTA inilah yang membawa orang tersebut untuk mau melakukan pelayanan kepada keluarga, masyarakat maupun Negara ini dengan tulus tanpa ada embel-embel untuk dikenal orang ataupun untuk memperoleh sesuatu atas pelayanan yang dilakukan. Kalau kita melakukan pelayanan dengan tulus dari dalam hati sanubari kita, maka akan terciptalah Kedamaian didalam diri kita. Ingat saudaraku semua bahwa Kedamaian didalam hati kita dan didalam kita bermasyarakat serta bernegara sangat-sangat mahal harganya dan tidak dapat dibeli dengan uang seberapapun, untuk itu mari kita jaga Kedamaian di NKRI ini. #BeraniJujurUntukHidupYangLebihBaik