Menjadi Profeneur Yang Hebat di Era Digital

Oleh

Dr. Ir. A.R. Adji Hoesodo,MD(H), SH, MH, MBA

Ketum Josay, Akademisi, Pengusaha dan Alumni  PPSA XXI Lemhannas RI

Banyak praktek dan proses menjadi seorang pengusaha yang sukses melalui beberapa pendekatan yang berbeda-beda. Ada sebuah keluarga yang mendidik anak-anaknya lngsung terjun menjadi Pengusaha dengan mengelola usaha yng dirintis oleh generasi pendahulunya tanpa mementingkan sebuah pendidikan yang menopang kehidupan dan kelangsungan hidup usahanya di kemudian hari. Pada kasus kedua ini banyak orang tua yang menyekolahkan anaknya keluar Negeri dan Perguruan Tinggi untuk menimba ilmu supaya lebih memperkuat masa depan usahanya dengan ilmu ini. Pada kasus ke dua ini penulis menyebutkan sebagai  Profeneur atau profesional enterpreneur. Dalam dunia usaha yang berkembang sekarang dibutuhkan banyak ilmu yang akan menggarap lahan bisnis yang semakin cepat perkembanganny. Tanpa dukungan ilmu kita hanya akan menjadi Enterpreneur saja.

Di Indonesia ada data yang menyebutkan penambahan jumlah pengusaha yang sebelumnya 1,6 % sekarang menjadi 3,1 %, sangat menggembirakan bagi Bangsa kita.  Kita sekarang akan menghimbau agar Pemerentah melalui kebijakan dan Strategi Pembangunan Nasional untuk memompa lebih banyak lagi Pengusaha terutama para Profeneur untuk menggerakka roda perekonomian Indonesia.

Jumlah wirausaha di suatu negara kerap dianggap sebagai indikator kemajuan. Patokannya minimal 2% dari jumlah penduduk harus berprofesi sebagai wirausaha. Dengan jumlah penduduk 250 juta jiwa, negeri ini paling kurang harus memiliki 5 juta jiwa wirausaha.

Dibandingkan dengan negara tetangga, kita kalah jumlah. Singapura ada di angka 7%, Malaysia 5%, Thailand 4,5%, dan Vietnam 3,3%. Amerika dan Jepang sudah melejit jauh. Sepuluh persen warganya terjun di dunia bisnis.

Indonesia Sangat kaya akan sumber Daya Alam dan banyk kesempata yang bisa digarap untuk menjadi Profeneur. Terlebih di zaman digital, nyaris tak ada kendala untuk memulai bisnis. Modalnya hanya kreatifitas dan keberanian. Siapapun bisa membuka gerai online, tanpa harus membuka toko fisik terlebih dulu. Makanan, minuman, aplikasi, jasa, apa saja,dsb. Demikian juga promosi dan pemasaran lebih mudah dan cepat dilakukan lewat media sosial dengan Teknik digital marketing.

Dengan adanya Internet maka banyak usaha yang tidak mengikuti jaman akan tertinggal dan bangkrut. Misal Toko kelontong banyak yang tutup karena sekarang menawarkan dagangan yang lebih murah dan praktis.

Fenomena di atas mendorong pesatnya pertumbuhan wirausaha di tanah air. Kementerian Koperasi dan UKM telah merilis rasio wirausaha tahun 2016 di tanah air mencapai 3,1% meningkat dari rasio sebelumnya 1,67%. Artinya, rasio kewirausahaan Indonesia sudah melampui batas minimal rasio kewirausahaan sebuah negara, yakni 2%.

“Dalam kurun waktu dua tahun dapat dicapai rasio kewirausahaan 3,1% mudah-mudahan tahun depan naik menjadi 4%. Kita malu dengan penduduk Indonesia 263 juta orang, tapi jumlah kewirausahaan masih kecil. Kita ingin rasionya paling tidak sama dengan Malaysia yang mencapai 5%, tidak perlu seperti Jepang dan Amerika Serikat yang sudah mencapai lebih dari 10%,

Target getkan rasio ideal wirausaha di Indonesia mencapai 5 % p. Target itu diharapkan akan tercapai dengan kerjasama semua pihak, pemerintah pusat, pemda, kampus dan mahasiswa, BUMN dan pihak lainnya.

 

Target 5% tersebut sangat mungkin dicapai jika ada kerjasama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan kampus, serta pihak lain. Mahasiswa dan kampus merupakan sasaran yang paling potensial untuk menumbuhkan kewirausahaan.

Dengan jumlah penduduk Indonesia 263 juta jiwa, dari data BPS tersebut dapat dihitung rasio wirausaha Indonesia mencapai 3,1%. Data BPS juga menunjukkan terjadi peningkatan kelas pelaku usaha dari pemula menjadi usaha mikro naik 12%, pelaku mikro ke usaha kecil naik 9% sedangkan dari pelaku usaha kecil ke menengah sekitar 1%.

Mari kita tumbuhkan jiwa Profeneur kita untuk Bangsa Indonesia