JOSAY MENJAJAGI POTENSI EKONOMI SIDAT

Ikan sidat adalah salah satu jenis ikan yang bentuknya mirip belut, tapi bedanya, ikan sidat hidup di air bukan di lumpur. Selain itu ikan sidat mempunyai sirip di dekat kepalanya. Untuk proses adaptasi kehidupan benih sidat atau glass eel, dari air laut menjadi air tawar, Petani ikan menyediakan kolam khusus yang berisi air tawar yang kemudian di beri garam tanpa yodium, agar air menjadi payau. Selanjutnya, benih sidat dimasukan ke kolam air payau buatan itu. Setelah benih sidat beradaptasi hidup di air payau, baru dipindahkan di kolam air tawar.

Adapun Proses adaptasi ini umumnya memakan waktu 1 bulan, dan dalam proses adaptasi ini, glass eel di beri makan cacing sutera, setelah beradaptasi dan terbiasa hidup di air tawar, sidat bisa dipindahkan di kolam pembesaran

Agar cepat besar, ikan sidat di beri makan campuran tepung ikan dan vitamin. Dengan sirkulasi air yang bagus dan pakan yang bergizi, ikan sidat dapat di penen setelah berumur 8 bulan hingga 1,5 tahun, tergantung besar kecil ukuran sidat yang diinginkan.

Saat ini harga ikan sidat berkisar antara Rp 160.000 hingga Rp 245.000/ kilogram (kg), yang rata-rata terdiri dari 3-4 ekor ikan.

Dari 8 spesies yang ada di Indonesia, ada dua jenis ikan sidat yang paling terkenal‎ adalah jenis Bicolour dan Marmorata. Bicolour punya warna hitam polos dengan garis putih di bagian bawahnya yang memanjang dari kepala sampai ekor. Kalau Marmorata punya warna abu-abu coklat dengan bintil-bintil gelap.

Ikan yang dalam bahasa Jepang disebut sebagai ‘Unagi’ ini hidup di dua lingkungan perairan. Tumbuh dan besar di air tawar, bertelur di air asin di laut. Makanya banyak bibit ikan sidat (ikan sidat baru lahir) sering ditemui di muara sungai dekat laut.

Ikan sidat yang masih berbentuk bibit memiliki tekstur bening seperti kaca, sehingga sering disebut glass eel (belut kaca) ini memiliki nilai gizi yang sangat tinggi.  Kandungan vitamin A pada ikan sidat mencapai 45 kali lipat dari kandungan vitamin A yang terkandung pada susu sapi. Vitamin lainnya seperti vitamin B1 dalam ikan sidat setara dengan 25 kali lipat kandungan vitamin B1 pada susu sapi.

Kandungan gizi dalam ikan sidat bahkan lebih unggul ketimbang ikan salmon yang dikenal kaya DHA (Decosahexaenoic acid) yakni kandungan gizi yang sangat dibutuhkan untuk membantu meningkatkan kecerdasan anak.

Potensi Sidat merupakan Peluang yang Menggiurkan‎

Meski memiliki kandungan gizi tinggi dan populasinya yang sangat banyak di Indonesia, sayangnya potensi ekonomi ikan ini belum dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat Indonesia.

Di Indonesia masih diolah sederhana. Karena sering ditemukan dalam bentuk bibit dan jumlahnya sangat banyak, oleh masyarakat kita ikan ini hanya dijadikan peyek saja. Padahal, di pasaran, ikan sidat yang sudah memiliki usia dan ukuran layak konsumsi bisa dihargai sangat mahal.

Bayangkan saja, untuk ikan sidat yang masih berbentuk bibit bisa dihargai Rp 3,5 juta/kg. Ikan sidat bibit itu ukurannya kecil. 1 kg bisa terdiri dari 5.000-6.000 ekor ikan sidat. Kemudian ikan sidat ukuran yang lebih besar yakni 30-50 ekor/kg bisa dihargai lebih murah yaitu Rp 800.000. Dan yang ukuran konsumsi yakni 2-3 ekor/kg bisa dihargai Rp 180.000/kg.

Artinya, bila dibandingkan harga satuan per ekor, saat ikan sidat masih berbentuk bibit dihargai Rp 500-700 /ekor. Sedangkan saat usia konsumsi, harganya bisa melejit menjadi Rp 90.000 / ekor atau berkali-kali lipat dibanding harga saat masih menjadi bibit. Dari bibit yang dibeli seharga Rp 3,5 juta/kg, bisa diperoleh hasil penjualan hingga Rp 540 juta.

Di wilayah pasar ekspor permintaan ikan sidat terus meningkat setiap tahunnya lantaran populasi ikan sidat di negara lain, seperti Jepang dan sejumlah negara Eropa yang kian menurun.  Kebutuhan dunia akan sidat saat ini sekitar 300.000 ton. Dan, khusus di Jepang, permintaannya mencapai 120.000 ton per tahun.

Padahal, Negeri Matahari Terbit ini sudah sejak lama mengembangbiakkan ikan jenis ini. Namun, saat ini 75% bibit ikan yang dibudidayakan harus diimpor dari negara lain.

Josay Institute berencana membetuk Pokja Ekonomi khusus  melalui Deputy Sumber Daya Alam untuk mempelajari bagaimana meningkatkan potensi perikanan ini untuk meningkatkan perekonomian bangsa Indonesia.  Ketua Umum Josay  Prof Dr A.R.Adji Hoesodo sangat mengapresiasi acara yang diadakan IJB.Net dalam melakukan kegiatan symposium mengenai sidat ini dengan menhadirkan para pakar dibidangnya. Josay yang ikut hadir dalam acara itu berencana akan membentuk KBU atau kelompok belajar usaha didaerah-daerah yang berpotensi melakukan pemberdayaan ekonomi dibidang sidat ini melalui Josay Capital Management Asset.

Ketum IJB.Net yang sekaligus Ketua Dewan Pakar Josay juga meng amini akan follow up dari acara ini. Acara ini diselenggarakan di Kantor Pusat Indonesia EximBank, Prosperity Tower Lantai 1,SCBD lot 28. Jl.Jend Sudirman Kav 52-53, Jakarta beberapa waktu lalu. (JosayPers)