Josay Aktif Menghadiri FGD Ekonomi Kerakyatan

Dalam rangka memberikan masukan yang konstruktif bagi pemerintahan baru Jokowi Makruf ( 2019-2024 ) maka beberapa tim pokja yang tergabung dalam FGD Ekonomi Kerakyatan NU Circle berdiskusi untuk merumuskan hal ini dengan beberapa komponen masyarakat profesional lainnya. Dalam Hal ini Josay diwakili oleh Ketum Josay Prof. Dr. A.R. Adji Hoesodo dan Bapak Tri Endar Susianto, SE, Akt dan Bapak Idun S, SE, MM.

Acara ini menhadirkan nara sumber Dr. Elan Satriawan (Deputy Monev TNP2K), Dr. Vivi Yulaswati (Direktur Penanggulangan Kemiskinan dan Kessos Bappenas) dan Dr. Teguh Dartanto (Kepala Departemen Ilmu Ekonomi FEB UI).

Adapun topik yang dihadirkan dalam diskusi ini adalah tentang Akselerasi Pengentasan Kemiskinan yaitu Program-program apa saja yang perlu dilanjutkan, diperbaiki, beserta gap analisisnya.

Hadir juga dalam acara ini beberapa guru besar dari Ekonomi UI ahli Demografi yaitu Prof. Dr. Priyono Cipto Heriyanto, peneliti dari INDEF , Bank Dunia dan lain-lain.

Acara yang berlangsung di gedung NU Circle Jl. Sultan Agung no 7 Jakarta Selatan ini berlangsung sangat lancar dan seru dengan diskusi yang aktif dalam memaparkan data-data kemiskinan dan cara penanggulangnnya.

Dalam diskusinya Josay menawarkan sinergitas juga kepada NU dalam memberikan Integrasi bagi Pengusaha NU untuk memakai platform FinTech yang diintegrasikan kepada kondisi geografis Indonesia yang merupakan Negara dengan kepulauan sejumlah 17.504 pulau. Dengan  melihat gini rasio sekarang sebesar 0,382 seperti nya pemerataan kemakmuran akan sulit tercapai karena  diluar jawa kondisi lembagakeuangan under bank jadi masyarakat kecil susah mengakses lembaga keuangan ini. Di Jawa mungkin dan Sumatra kondisi over bank karena bank sangat banyak dan masyarakat mudah mengakses layanan.

Juga menyoroti kondisi usaha kecil dan mikro yang jumlahnya 98 % dan terbukti dari tahun 1998 sangat kuat dan menopang perekonomian Indonesia walau dunia mengalami keterpurukan. Banyak dari pelaku usaha kecil dan mikro ini tidak mendapat akses lembaga keuangan. Menurut data 52 % masyarakat Indonesia tidak mempunyai rekening di Bank dan hanya 48 % yang punya. Jika usulan dari Josay ini bisa direalisasikan maka Negara bisa memanfaatkan uang tidur ini untuk membangun negara. Tapi mekanisme ini memang sedang di teliti oleh Tim Riset Josay bekerja sama dengan Jepang. (JosayPers).