DRAMA PILPRES 2019 : CERMIN KEDEWASAAN BERDEMOKRASI?

Oleh
Farid Subkhan
Ketua Dewan Pakar Josay, Founder & Executive Director Citiasia Center for Smart Nation (CCSN), serta Dosen Perbanas Institute Jakarta

Drama Pilpres 2019 telah diakhiri dengan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) tanggal 27 Juni 2019 yang memenangkan Jokowi-Amin atas Prabowo Sandi. Sebuah drama realiti politik yang teramat panjang yang menguras energi, pikiran, biaya, emosi, bahkan mempertaruhkan nyawa para pejuang Pemilu 2019.  

Kontestasi politik Pilpres tentu tidak bisa disamakan dengan kontes Indonesian Idol, KDI,  Dangdut Academy dan lain-lain. Kendati demikian Indonesian Idol yang meski berlangsung hanya 4 bulan saja juga menyisakan haru biru bagi para pendukung dan penggemar yang idolanya tereliminasi.

Apalagi kontestasi Pilpres yang berlangsung hingga 9 bulan sejak pendaftaran hingga putusan MK.  

Sangat wajar jika putusan MK menyisakan kesedihan, duka, tangis, amarah, galau, hingga mungkin ada beberapa yang agak ugal-ugalan bagi para pendukung dan penggemar fanatik Prabowo-Sandi.

Mirip dengan supporter bola yang kadung fanatik berat dengan klub pujaannya. Mereka betul-betul tidak sanggup menyaksikan klub yang begitu dicintainya harus menelan kekalahan.

Bayangkan saja bagaimana pilunya supporter Persib ketika klubnya kalah atas Persija atau kesedihan supporter Barcelona ketika klub pujaannya dilibas oleh Liverpool di Liga Champion.

Tidak sedikit dari para penggemar Prabowo-Sandi yang hingga hari ini masih tidak percaya atas kekalahan pasangan Capres-Cawapres yang diidolakan tersebut. Beberapa bahkan berulang-ulang memutar kembali beberapa cuplikan sidang MK hingga pendapat para saksi, analis, tokoh, hingga politisi yang memberikan pernyataan dukungan atas kemenangan Prabowo-Sandi.

Tentu saja tidak ada yang salah dengan reaksi seperti itu. Karena itu manusiawi sekali.

Dilain pihak, para penggemar dan pendukung pasangan Jokowi-Amin berselebrasi atas putusan MK tersebut. Tersenyum dan tertawa bahagia. Tak henti-hentinya bersyukur. Banyak keluarga dan simpatisan yang merayakannya dengan pesta pora.

Mirip dengan selebrasi yang dilakukan oleh supporter Arema Singo Edan ketika klub-nya memenangkan pertandingan. Begitu juga  supporter Barcelona ketika klub-nya menggilas Real Sociedad. Sekali lagi itu semua sungguh manusiawi.       

Dalam kacamata demokrasi, tentu saja kedua fenomena itu harus dilihat sebagai sesuatu yang wajar sebagai bagian dari konsekwensi kontestasi politik. Yang penting jangan melakukan hal-hal yang membahayakan orang lain, atau melakukan huru-hara, serta berbuat onar yang merugikan orang lain. Kalaupun ada, kasus yang demikian harus diselesaikan secara hukum. Bukan dengan cara politik.

Semua pihak harus menghargai mereka yang mendukung Prabowo-Sandi maupun Jokowi-Amin. Baik yang sedang berduka maupun yang sedang bahagia. Itulah kedewasaan berdemokrasi.

Pada tahun 2000, Pemilu Amerika Serikat ketika itu secara jumlah pemilih (popularitas) dimenangkan oleh Algore atas George Bush. Namun undang-undang Amerika memenangkan George Bush berdasarkan keterpilihan elektoral.

Pada akhirnya Algore pun terpaksa harus memberikan selamat kepada Bush sebagai kandidat syah yang terpilih menurut undang-undang. Begitu juga fenomena Hillary Clinton vs Donald Trump dalam Pilpres Amerika 2016 yang menyisakan rasa pilu bagi para pendukung Hillary. Namun apapun alasannya, atas nama kecintaan kepada negara dan konstitusi, rakyat Amerika harus mengakui Trump sebagai Presiden Amerika Serikat ke-45.   

Pasca putusan MK 27 Juni 2019, Presiden dan Wakil Presiden terpilih adalah pemimpin untuk seluruh rakyat Indonesia. Suka atau tidak suka.  Inilah cerminan bangsa yang sudah matang berdemokrasi dan dilabelin sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia setelah India dan Amerika.

Menjadi PR bersama seluruh elemen bangsa Indonesia untuk merajut persatuan dan menyatukan elemen masyarakat yang tercerai berai. Selanjutnya seluruh rakyat harus turut membangun bangsa ini agar lebih berdaya saing dan bermartabat. Sejajar dengan bangsa-bangsa maju di dunia.

Mengharumkan nama bangsa di mata bangsa sendiri maupun di mata bangsa lain. Jika masih banyak kekurangan Pemilu disana-sini, hal ini harus menjadi pembelajaran untuk diperbaiki oleh para penyelenggara negara melalui perbaikan undang-undang Pemilu yang lebih baik kedepan. Amiiin YRA…