Biaya Logistik Masih Tinggi: Indonesia Terus Lakukan Berbagai Terobosan Bidang Logistik

Biaya logistik di Indonesia masih tinggi, dan menjadi fokus kerja pemetintah dan pelaku usaha. Jika tidak akan menjadi beban bahkan menurunkan daya saing Indonesia di mata investor. Data pada tahun 2017, biaya logistik di Indonesia sebesar 23,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Dari total biaya logistik tersebut, komponenya meliputi biaya transportasi : 60 persen, biaya penyimpanan : 30 persen dan biaya administrasi : 10 persen.

Laporan Bank Dunia tentang Logistic Performance Index (LPI) menyebutkan, posisi LPI Indonesia ada diurutan ke-48. Mski diakui, kondisi tersebut sudah naik dibandingkan era sebelumnya.

“Indonesia masih harus terus memperbaiki dan meningkatkan kinerja dan efisiensi layanan logistik, guna meningkatkan daya saing Indonesia di mata dunia khususnya para investor,” kata Direktur Angkutan Multi Moda (AMM) Ditjen Hubdat, Ahmad Yani, ATD, MT pada acara Outlook Industri Transportasi dan Logistik di Indonesia 2019, di Jakarta, (28/11).

Untuk kawasan Asia, lanjut dia, LPI tertinggi diduduki China, di urutan 26, disusul Tailand di 32, Vietnam 39, Malaysia nomor 41, India 44, dan Indonesia nomor 48.

Sementara, dari sisi infrastruktur di kawasan Asia, menurut Bank Dunia rangking tertinggi adalah China 20, Malaysia 40, Thainda 41, Vietnam 47, India 52 dan Indonesia di urutan 54.

Namun begitu, menurut Yani, Pemerintah Indonesia tak mau tinggal diam. Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) khususnya Ditjen Hubdat terus meingkatkan kinerja, efisiensi dan daya saing logistik Indonesia.

Dari sisi angkutan multimoda, menurut Yani, Indonesia akan membangun konsep ‘hub and spoke’ dengan memadukan berbagai moda transportai, seperti kapal laut (kapal kontainer, kapal ferry, tongkang dll). Kemudian kereta api, truk, dan pesawat udara.

“Pendekatan ke depan, semua angkutan harus bisa sinergikan dan saling koneksi dengan baik. Sehingga pada akhirnya bisa tercipta layanan logistik yang cepat, efisien dan berdaya saing,” papar Yani, saat mewakili Dirjen Hubdat, Budi Setiyadi itu.

Integrasi antarmoda ke depan, menurut Yani, adalah dengan mengombinasikan berbagai moda transportasi guna mempermudah akses pergerakan barang dan orang. Selain itu juga menyediakan layanan perpindahan moda yang efisien dan efektif,” papar Yani.

Menjelang industri era 4.0, terang Yani, dibutuhkan fasiliats perpindahan moda yang ‘seamless dan terpadu,.

“Jika semua itu bisa dilakukan secara baik, terpadu dan berkelanjutan, maka kita optimis layanan logistik di Indonesia makin baik dan efisien. Daya saing Indonesia juga terdongkrak naik,” tandas Yani.

Tol Laut 2019 Diintegrasikan

Lebih lanjut dikatakan, Pemerintah terus menggalakan program tol laut di Indonesia, serta mengintegrasikan dengan moda tranportasi lain. Program tol laut saat ini terbukti cukup baik, dan berhasil menekan disparitas harga di berbagai daerah terutama di daerah terluar, terdalam dan terpencil (3T) di NKRI.

“Sebagai negara maritim, untuk menciptakan layanan logistik yang baik dan efisien, maka wajib untuk memadukan berbagai moda transportasi sesuai kondisi dan kearifan lokal yang ada,” kata Ahmad Yani.

Dikatakan, untuk memperkuat konektivitas tol laut, perlu diintegrasikan dengan jaringan jalan nasional dan ferry penyeberangan sebagai jembatan berherak (movabel bridge).

Perpaduan konsep tol laut, menurut Yani, dengan jaringan jalan nasional, dan fery penyeberangan, akan membentuk jaringan nautical freeway yang menjadi kunci konektivitas domestik.

Selama dua tahun, program tol laut sudah menjangkau puluhan kawasan 3 T, dengan kapal-kapal tol laut yang dioperasikan PT Pelni dan berbagai perusahaan swasta nasional.

“Jumlah itu akan terus ditambah dan diperkuat di masa mendatang,” jelas Yani.

Tambah Menjadi 230 Lintasan

Tahun 2019 mendatang, kapal tol laut akan melayani lintasan perintis sebanyak 230. Sedang kapal yang akan dioperasikan untuk mendukung tol laut bertambah menjadi 130 unit.

Kapal-kapal tol laut berbagai jenis dan ukuran itu telah dan sedang dibangun di galangan kapal dalam negeri.

“Secara bertahap, pembangunan kapal akan selesai dan siap dioperasikan untuk memperkuat angkutan logistik di Indonesia,” papar Yani.

Menurut dia, Pemerintah juga akan menyediakan kapal roro jarak jauh, untuk melayani truk angkutan/ barang yang
selama ini diangkut melalui jalan darat.

“Tiga rute kapal roro jarak jauh itu adalah, Jakara-Semarang, Jakarta-Surabaya, dan Surabaya-Lembar, NTB,” sebut
Yani.

Pengalihan truk angkutan barang ke kapal roro, yang selama ini melalui jalan darat, menurut Yani, dinilai cukup efektif dan menjanjikan.

“Kapasitas lebih besar, hemat BBM, dan tidak menambah kemacetan di jalan darat serta nilai tambah lainnya. Seperti diketahui, kemacetan di jalan darat terutama tol Jakarta-Cikampek, sudah semakin mengkhawatirkan,” terang Yani.